Fantasti Terbaik
4 قصص
LANGIT TAK PERNAH MEMILIH SIAPA YANG BOLEH BERMIMPI بقلم YuliaRS4
YuliaRS4
  • WpView
    مقروء 25
  • WpVote
    صوت 5
  • WpPart
    فصول 1
Fajar di Desa Sungai Bening senantiasa hadir bersama aroma bumi yang baru tersiram hujan dan kokok ayam yang setia menandai berlanjutnya kehidupan. Di antara butir embun dan hamparan persawahan, hiduplah seorang gadis bernama Yulia, putri seorang petani padi yang setiap hari merajut harapan di tengah lumpur sawah yang melekat di kakinya, Di desa itulah Yulia dilahirkan, bukan lewat jerit tangis yang riuh, melainkan dalam sunyi yang kelak menempa kekuatan hatinya.
DI ANTARA SINGGASANA DAN HAMPARAN PADI بقلم YuliaRS4
YuliaRS4
  • WpView
    مقروء 21
  • WpVote
    صوت 6
  • WpPart
    فصول 1
Di wilayah yang dikenal sebagai Lembah Harmoni, kehidupan manusia ditata oleh garis keturunan dan derajat sosial. Mereka yang lahir di balik tembok istana tumbuh dengan bayang-bayang kekuasaan, sementara yang lahir di perdesaan tumbuh dengan lumpur sawah yang melekat di kaki mereka. Keyakinan tentang perbedaan nasib ini telah diwariskan turun-temurun, hingga suatu peristiwa mempertemukan dua insan dari dunia yang bertolak belakang dan mengubah cara mereka memandang kehidupan.
DI BAWAH BAYANG YANG TETAP BERDIRI بقلم YuliaRS4
YuliaRS4
  • WpView
    مقروء 22
  • WpVote
    صوت 5
  • WpPart
    فصول 1
Di jantung Desa Karyatama, pada persimpangan jalan yang tak pernah sepi dari langkah kaki dan roda kendaraan, tumbuh sebuah pohon trembesi raksasa yang keberadaannya melampaui ingatan kolektif warga. Tak seorang pun benar-benar tahu kapan ia mulai tumbuh. Pohon itu seolah sudah ada sebelum desa diberi nama, sebelum rumah-rumah didirikan, dan sebelum jalan-jalan dibentangkan. Akar-akarnya menembus dan mencengkeram tanah, muncul ke permukaan dalam lilitan besar yang menyerupai urat nadi bumi, seakan menyalurkan kekuatan tak kasatmata ke setiap sudut desa.
PAYUNG YANG MENJAGA HARAPAN بقلم YuliaRS4
YuliaRS4
  • WpView
    مقروء 8
  • WpVote
    صوت 5
  • WpPart
    فصول 1
Hujan datang mendadak di penghujung sore yang riuh, seolah langit menumpahkan seluruh beban yang ia tahan sejak siang. Jalanan berubah menjadi cermin kusam, memantulkan lampu kendaraan dan langkah orang-orang yang bergegas mencari perlindungan. Klakson bersahutan, aroma aspal basah menguar, dan angin membawa butir hujan menyapu wajah siapa saja yang lengah. Di sebuah halte tua dengan cat kusam yang mengelupas di banyak sisi, Yulia berdiri sendiri. Kedua tangannya mendekap tas kainnya dengan erat, seakan di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada kertas.