Agegap
5 stories
Blue Hour by Tacyraz
Tacyraz
  • WpView
    Reads 3,862
  • WpVote
    Votes 339
  • WpPart
    Parts 19
Tidak ada yang lebih sederhana daripada sebuah pertemuan di minimarket. Setidaknya, itu yang Anya Casie pikirkan saat memutuskan mampir sepulang kerja untuk membeli beberapa kebutuhan di kosnya. Namun, langkahnya justru terhenti ketika seorang anak laki-laki kecil dengan pipi menggemaskan menghampirinya sambil mengulurkan satu permen yang digenggam erat di tangan mungilnya. "Ini... buat Onti." Di belakang anak itu, berdiri seorang pria yang segera menarik putranya pelan sambil meminta maaf atas tingkah polosnya. Ezra Blaze. Seorang ayah berusia empat puluh satu tahun yang memilih menutup hatinya setelah dikhianati oleh perempuan yang pernah ia anggap sebagai rumah. Sedangkan Matheo Blaze-Theo-adalah satu-satunya alasan Ezra tetap bertahan menjalani hidup. Seharusnya, pertemuan singkat itu berakhir begitu saja. Namun, siapa sangka... Theo justru terus mencari Anya. Tangisnya setiap kali harus berpisah, senyumnya setiap kali kembali bertemu, hingga pelukan kecil yang selalu ia berikan tanpa ragu, perlahan menghadirkan kehangatan yang sudah lama hilang dalam kehidupan Ezra. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada cinta pada pandangan pertama. Hanya ada seorang anak kecil yang, tanpa sengaja, mempertemukan dua hati yang sama-sama sedang belajar pulang. Sebab terkadang... Takdir tidak datang dengan cara yang rumit. Ia hadir di waktu yang paling tenang. Tepat ketika langit berubah menjadi biru.
A Reason to Stay (END) by Tacyraz
Tacyraz
  • WpView
    Reads 77,021
  • WpVote
    Votes 2,750
  • WpPart
    Parts 18
Keenan Mahendra, 44 tahun, berdiri di atas jembatan pada suatu pagi yang terlalu tenang untuk seseorang yang berniat mengakhiri hidupnya. Enam tahun dihantui rasa bersalah atas kecelakaan yang merenggut istri dan ibunya, ia lelah bertahan. Lalu datang seorang gadis asing berusia 23 tahun. Raizel sebenarnya ingin menghentikannya. Ia hanya tidak pandai bersikap dramatis. Jadi alih-alih memohon atau menangis, ia memilih cara paling aneh yang terpikir olehnya. Meminta Keenan mentransfer tiga puluh juta rupiah sebelum loncat. Absurd. Tidak masuk akal. Tapi berhasil. Satu transfer, satu ajakan memasak di rumah yang terlalu sepi, dan percakapan yang jujur tanpa pretensi menjadi awal dari sesuatu yang tak mereka rencanakan. Karena terkadang, alasan untuk tetap hidup tidak selalu datang dengan cara yang indah. Kadang, ia datang lewat seseorang yang nekat, canggung, dan terlalu peduli untuk membiarkan orang asing mati begitu saja.