SalmaStylinson2346
Mahawira Warupati Sanjaya, pria yang dulu dikenal dengan senyum cerahnya, telah lama kehilangan cahayanya. Kehidupannya berubah drastis sejak kedua orang tuanya, Anak Agung Raihan Maharani dan Abraham Brooks, berpisah saat usianya genap 10 tahun. Hak asuh jatuh pada ayahnya, dan Maha dipaksa meninggalkan Bali yang hangat menuju Los Angeles yang dingin dan asing.
Dalam 16 tahun berikutnya, ia tumbuh di bawah asuhan keluarga baru, berprestasi di Downtown Magnets High School dan Le Cordon Bleu, hingga menyandang gelar Master. Tapi di balik semua pencapaian itu, ada kekosongan yang tak pernah terisi. Senyumnya yang dulu teramat memikat mati bersama perpisahannya dengan Sundari Senotedjo Kusumawardani, cinta pertamanya.
Gadis itu pusat dunianya, pemilik tawa yang membuat segala hal terasa lebih ringan. Tapi waktu dan jarak memisahkan mereka, meninggalkan Maha dengan kenangan pahit yang tak pernah ia lupakan.
Hingga suatu hari, takdir mempertemukan mereka kembali di tempat yang tak disangka-sangka-sebuah kedai kopi kecil dengan menu spesial mie ayam dan geprek sambal hijau yang menggoda. Di antara aroma kopi yang baru diseduh dan hiruk-pikuk pelanggan, Maha menangkap bayangan wajah yang begitu dikenalnya. Sundari. Gadis yang dulu ia cintai, kini berdiri di hadapannya, senyum yang pernah ia rindukan terasa begitu dekat, meski waktu telah mengubah mereka berdua.
Namun, Sunda bukan lagi gadis yang ia tinggalkan di Bali. Kini ia seorang wanita mandiri dengan dunia yang sepenuhnya berbeda. Dalam pertemuan mereka yang dipenuhi percikan nostalgia, tawa canggung, dan percakapan yang terasa seperti perjalanan waktu, Maha mencoba menebus jarak bertahun-tahun di antara mereka.
Senyum Sundari masih sama, tapi matanya kini membawa cerita yang berbeda. "Maha... lama sekali," katanya, suaranya lembut seperti angin Bali. Maha tersenyum, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang tak beraturan. "Sunda... kamu masih sama," dia jawab, sambil berpikir, apakah dia sendiri masih sama.