cantikanurhidayah743
Safira tak pernah tahu bahwa kehadirannya bisa membuat seseorang jatuh sedalam itu. Saat ia masih bersama pacarnya, Desva-teman yang selalu hadir, selalu peduli, dan selalu siap menjadi tempat pulang-menyatakan perasaannya.
Safira menolak. Bukan karena tidak suka, tapi karena hatinya sudah terikat pada orang lain.
Desva menerima penolakan itu dalam diam, membawa pulang luka yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Safira melanjutkan hubungan yang ia kira akan berakhir bahagia.
Namun kenyataan mengambil arah lain.
Setelah putus dari pacarnya, Safira mulai merasakan sesuatu yang asing: penyesalan. Ia ingat bagaimana Desva memperlakukannya dengan tulus... sesuatu yang ternyata tak ia temukan pada siapa pun. Safira mulai mendekati Desva, mencoba merangkai kembali sesuatu yang dulu ia hancurkan tanpa sengaja.
Tapi Desva bukan lagi orang yang sama.
Tanggapan yang dulu hangat kini berubah dingin. Senyuman yang dulu hadir untuknya kini sudah jarang terlihat. Safira mengejar, berharap, dan bertahan... sampai hampir menyerah.
Banyak lelaki datang mendekatinya, mencoba mengisi ruang hatinya yang sempat kosong. Namun, selalu ada nama yang bertahan di titik terdalam: Desva.
Ketika akhirnya Desva kembali merespon-membuka sedikit celah yang dulu ia tutup rapat-Safira justru menyadari sesuatu yang menyesakkan:
perasaannya untuk Desva perlahan memudar, bukan hilang, tetapi berubah bentuk. Ia merindukan sosoknya... namun tidak yakin ingin bersamanya.
Safira merasa tak pantas.
Ia takut menyakiti Desva lagi.
Takut mengulang perpisahan yang dulu.
Takut tidak bisa memberi kebahagiaan yang Desva cari.
Dan pada akhirnya... ia hanya mampu mencintai Desva dalam diam, seperti bagaimana Desva dulu mencintainya.
Jika bahagiamu bukan denganku, mungkin mencintaimu tanpa memiliki adalah cara terbaik untuk menjaga kita berdua.