babymonth21
Wilona berdiri dengan napas memburu, gaun sutra hitamnya sedikit kusut-kontras dengan keanggunannya yang biasanya tak tersentuh.
"Kau berani membatalkan semua pertemuan pribadiku, Zidan?" suara Wilona rendah, tajam seperti belati yang ditekan ke tenggorokan.
"Kau hanya seorang pelayan Beraninya kau mengatur siapa yang boleh kutemui?"
Zidan melangkah maju. Tidak ada lagi binar pemuda kantor yang canggung. Matanya yang gelap terkunci pada manik mata Wilona dengan intensitas yang membuat udara di ruangan itu mendadak menipis.
"Saya tidak mengatur Anda, Nona," bisik Zidan, suaranya parau namun penuh otoritas yang tak tergoyahkan. Ia berhenti tepat di depan Wilona, menghapus jarak di antara mereka hingga aroma mawar dan bahaya menguar kuat.
Zidan perlahan mengangkat tangannya, jemarinya yang gemetar karena gairah yang tertahan tidak menyentuh, melainkan hanya membingkai wajah Wilona.
"Saya hanya menyingkirkan lalat-lalat yang mencoba mencuri perhatianmu dari saya. Pria-pria itu... mereka hanya ingin menghancurkanmu. Hanya aku yang tahu cara memujamu dengan benar."
Wilona mencoba mundur, namun punggungnya tertahan meja jati yang dingin. Seringai sinis yang biasanya ia miliki memudar, digantikan oleh kilat kebingungan dan sesuatu yang menyerupai rasa takut yang menggoda.
"Kau gila," desis Wilona.
"Memang," Zidan menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Wilona, membiarkan napas hangatnya menyapu kulit sensitif sang Antagonis.
"Aku sudah gila sejak pertama kali membaca namamu. Dan sekarang, setelah aku memilikimu di hadapanku... aku tidak akan membiarkan satu helai rambutmu pun jatuh ke tangan orang lain. Kau adalah milikku, Nona. Bahkan jika aku harus membakar seluruh dunia ini agar kau tetap menatapku."
Tangan Zidan berpindah, mencengkeram pinggiran meja di kedua sisi tubuh Wilona, mengurungnya dalam ruang sempit yang hanya berisi mereka berdua. Matanya turun ke bibir merah Wilona, penuh rasa lapar yang liar dan posesif