AmyGa943
- Reads 107
- Votes 46
- Parts 10
Punggungku menekan lantai dingin yang berbau kapur barus. Angin malam menyapu keringat di pelipis, membuat tubuh yang sudah gemetar kian menggigil. Di depanku, ratusan jejak air mata menyusuri retakan lantai balkon, seolah tak ada lagi tempat untuk menampung semua rasa sakit ini.
Sore tadi dokter menggeleng pelan dan berkata, "Pita suaramu rusak parah, Nak. Secara medis mungkin tak akan pernah pulih lagi."
Aku ingin berteriak. Ingin memaki. Ingin bertanya kenapa harus aku? Tapi tak ada satu pun suara yang keluar. Hanya isak tanpa bunyi yang mencekik kerongkongan, seperti dua tahun terakhir ini.
Tangan kecil berkilau cat kuku merah muda menekan keras di kerah bajuku. Wajah gadis itu kabur tertutup bayangan, tapi suara tawanya yang tajam masih terdengar sejelas di telingaku sekarang.
"Coba teriak kalau berani. Oh iya, kan lo cuma sampah yang gak bersuara."
Tawa itu bergema, berulang-ulang, memekakkan telinga.