zhanghao01xx
Hendrick awalnya tidak peduli pada siapa pun, termasuk Hazelyn Camelia. Baginya, manusia hanyalah objek yang membosankan. Namun, setelah malam itu, aroma Hazel dan ketakutan yang bercampur kekaguman di mata gadis itu terus membayangi pikirannya. Obsesi yang gelap mulai tumbuh dan mengakar dengan cepat.
Hendrick mulai mengawasi Hazel dari kejauhan. Sikapnya di kampus tetap cuek dan tak acuh, seolah mereka tidak saling kenal. Namun, di balik topeng ketenangannya, Hendrick mengontrol segalanya.
"Dia adalah milikku. Bahkan sebelum dia menyadarinya, jiwanya sudah tertulis atas namaku." - Hendrick Richardo.
Hendrick paling tidak tahan melihat bagaimana para pria di kampus menatap Hazel. Baginya, tatapan mereka menjijikkan-seolah-olah sedang melihat makanan lezat yang siap disantap. Setiap kali ada pria yang mencoba tebar pesona atau mendekati Hazel, Hendrick memastikan pria tersebut menerima "peringatan" yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Posesifnya bukan lagi sekadar cemburu, melainkan sebuah kontrol mutlak. Tidak boleh ada satu pun mata yang memandang Hazel, karena Hazel hanya diciptakan untuk matanya sendiri.
Cinta di Ambang Bahaya
Waktu berlalu, dan permainan petak umpet emosional ini membawa mereka ke sebuah titik balik. Hazel bukan wanita lemah yang langsung mundur ketika tahu sisi gelap Hendrick. Sebaliknya, semakin Hendrick menunjukkan sifat protektifnya yang ekstrem, semakin Hazel merasa terikat.
Hingga akhirnya, dinding pertahanan Hendrick runtuh. Di bawah guyuran hujan dan sudut ruangan yang sepi, mereka saling mengakui perasaan yang tak biasa ini. Hendrick, dengan segala kekejaman dan reputasi psikopatnya, ternyata mampu memberikan rasa aman yang mutlak bagi Hazel. Di mata Hazel, kekejaman Hendrick adalah tameng, dan ketenangannya adalah rumah.