amarlubai
Yauma Nahara adalah definisi sempurna dari wanita modern yang memiliki segalanya: kecantikan yang memikat, gelar Magister Sains (S2) Pertanian dengan predikat summa cum laude, dan status sebagai putri tunggal seorang konglomerat ternama di Jakarta. Namun, di balik kemilau hidupnya, Yauma merasa terasing. Baginya, cinta sejati adalah teka-teki yang sulit dipecahkan di tengah dunia yang memandang wanita hanya sebagai aset bisnis atau objek estetika. Muak dengan tekanan ayahnya yang bersikeras menjodohkannya dengan rekan bisnis demi ekspansi korporasi, Yauma mengambil keputusan nekat: meninggalkan kenyamanan Jakarta menuju pelosok Bumi Sriwijaya, Sumatera Selatan.
Ia datang ke Perkebunan Wahidan, sebuah hamparan hijau nan megah yang mengintegrasikan perkebunan cengkeh warisan leluhur dengan perkebunan jeruk yang sedang sekarat akibat serangan penyakit sistemik CVPD. Di sana, ia melamar sebagai peneliti independen dengan misi menyelamatkan ekosistem lahan tersebut. Namun, tantangan terbesarnya bukanlah hama tanaman, melainkan sang pemilik perkebunan, Arkan Wahidan.
Arkan adalah pria yang dingin, kaku, dan sangat disiplin. Sebagai pewaris tunggal, ia memimpin ribuan buruh tani dengan tangan dingin dan prinsip Islami yang sangat kuat. Pertemuan awal mereka dipenuhi dengan ketegangan profesional. Arkan skeptis terhadap "gadis kota" yang dianggapnya hanya mencari pelarian, sementara Yauma merasa tertantang oleh kedinginan Arkan yang tidak pernah mau menatap matanya lebih dari beberapa detik.
Namun, cinta mereka tidak tumbuh melalui jalan biasa. Sesuai dengan komitmen spiritual keduanya, mereka memilih jalan "Anti-Pacaran". Tidak ada rayuan murahan, tidak ada sentuhan fisik, dan tidak ada pertemuan berdua tanpa perantara.
"Kalam Cinta di Hamparan Hijau" adalah sebuah romansa edukatif yang membuktikan bahwa menjaga diri bukanlah penghalang bagi cinta, melainkan jembatan menuju keberkahan.