TattvaKatha's Reading List
4 stories
Love, Low-Key by taniasasha
taniasasha
  • WpView
    Reads 10,639
  • WpVote
    Votes 4,527
  • WpPart
    Parts 26
Kancha menemukannya. Untuk yang pertama kali. Tatapan mereka terpaut. Tidak ada hal lain, hanya sebatas itu. Tanpa untaian kata tertinggal. Melupakan prinsip bahwa jatuh cinta adalah hal yang paling mengerikan. Kancha sadar, menyerahkan hati pada sosok Cello Lavoizer adalah bencana besar. Sejenak dia tertawa miris. Bahkan untuk saling berkenalan saja, ia tak pernah lakukan. Lantas, mengapa hasratnya berkeinginan lebih padahal mereka hanya sebatas dua insani minim interaksi? "He never love me back," gumamnya dengan wajah datar. Tapi, apakah benar begitu, Cello? | 𝐀 𝑳𝒐𝒗𝒆 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐰𝐫𝐢𝐭𝐭𝐞𝐧 𝐢𝐧 𝐞𝐲𝐞 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐚𝐜𝐭 𝐚𝐧𝐝 𝐤𝐞𝐩𝐭 𝑳𝒐𝒘-𝑲𝒆𝒚 🏅#1 of 415 stories - Misunderstanding (January 31, 2026) 🏅#1 of 314 stories - Denial (January 30, 2026) 🏅#1 of 70 stories - Sexual Harrasment (January 30, 2026) 🏅#1 of 35 stories- Yearning (January 30, 2026) 🏅#1 of story - Manhater (February 20, 2026) 🏅#1 of story - Phsycologist (February 20, 2026) 🏅#1 of story - Highschool (February 20, 2026) ©ᴛᴀɴɪᴀsᴀsʜᴀ | ᴏᴄᴛᴏʙᴇʀ 5, 2023 F e b r u a r y 1st, 2 0 2 6
Tujuh Belas by sflwrinn
sflwrinn
  • WpView
    Reads 5,648
  • WpVote
    Votes 1,889
  • WpPart
    Parts 34
Kisah ini bukan hanya sekedar cerita fiksi, tapi potongan kisah nyata tentang persahabatan, cinta, dan luka mental yang benar-benar ada. Dan mungkin lebih dekat dengan hidupmu dari yang kamu kira. Tentang mereka, sekumpulan jiwa retak yang membalut luka dengan komedi, mengira bahwa selama mereka masih bisa bercanda, dunia tidak akan pernah melihat kehancuran di dalamnya. Namun, sebuah garis batas bernama Tujuh Belas telah menunggu di persimpangan, sebuah angka yang bukan lagi tanda kedewasaan, melainkan lonceng kematian bagi topeng yang mereka kenakan. Saat tawa tak lagi mampu menambal retakan, siapakah yang akan tetap berdiri ketika segalanya hancur tepat di titik yang mereka sebut sebagai masa depan?
Before the Guillotine Rings by TattvaKatha
TattvaKatha
  • WpView
    Reads 310
  • WpVote
    Votes 123
  • WpPart
    Parts 12
Before The Guillotine Rings: Countdown to a Horrific End Seorang putri bangsawan tingkat tinggi pada akhir monarki Prancis berjalan menuju kematiannya tanpa perlawanan. Bukan karena ia tak bersalah, tetapi karena ia menyadari bahwa pembelaan sudah lama kehilangan makna. Ia tidak dieksekusi sebagai individu, melainkan sebagai simbol dari sistem yang runtuh. Guillotine bukan hukuman personal, melainkan penutup sejarah. Namun kematian tidak menjadi akhir. Ia terbangun kembali dalam tubuhnya yang masih kanak-kanak, bertahun-tahun sebelum Revolusi Prancis mencapai puncaknya. Awalnya ia mengira ini mimpi, sampai tubuhnya sendiri mengingat sesuatu yang seharusnya belum terjadi. Istana yang sama, wajah-wajah yang sama, dan ketakutan yang masih melekat pada para pelayan membuatnya sadar bahwa waktu telah mundur, tetapi sejarah belum berubah. Dengan ingatan akan akhir hidupnya, ia berusaha memahami kejahatan-kejahatan yang dulu membawanya ke penggal. Bukan satu dosa besar, melainkan rangkaian keputusan kecil: pembiaran, keheningan, simbolisme yang kejam, dan keyakinan bahwa darah bangsawan memberi kekebalan. Ia sadar bahwa kebaikan pribadi tidak cukup untuk membongkar sistem, dan bahwa setiap upaya perubahan justru berisiko mempercepat kehancurannya. Seiring waktu berjalan, tanda-tanda krisis kembali muncul. Kelaparan, pajak, propaganda, dan kebencian kelas bergerak seperti roda yang sulit dihentikan. Upayanya untuk mengubah arah sejarah membawanya pada dilema yang tidak bersih: menyelamatkan diri sendiri atau mempertaruhkan nyawanya demi perubahan kecil yang mungkin bahkan tidak tercatat. Cerita ini bukan tentang menjadi pahlawan. Ini tentang bernegosiasi dengan masa lalu yang tidak bisa dimaafkan, dan masa depan yang mungkin tetap menuntut kepala sebagai harga kestabilan. Ketika guillotine kembali membayangi, pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan mati, tetapi apa arti hidup jika sejarah tetap memilih korban yang sama. #guillotine #villainess #aristoktat
Nothing Personal by TattvaKatha
TattvaKatha
  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
Cerita-cerita dalam buku ini lahir dari keputusan, aturan, dan kebiasaan yang selalu disebut wajar. Tidak ada niat jahat yang eksplisit, tidak ada kekerasan yang diumumkan dengan suara keras. Semua berjalan rapi, prosedural, dan masuk akal. Justru di situlah masalahnya. Setiap cerpen memperlihatkan bagaimana manusia saling melukai, menyingkirkan, dan mengorbankan satu sama lain tanpa merasa bertanggung jawab, karena semuanya dilakukan atas nama sistem, peran, dan kewajiban. Tidak ada yang benar-benar bersalah, tapi selalu ada yang dirugikan. Nothing Personal bukan kumpulan kisah tentang individu yang kejam, melainkan tentang dunia yang terus bekerja dengan sopan, bahkan ketika ia menghancurkan manusia di dalamnya.