Ai_Pastry
- Reads 1,200
- Votes 125
- Parts 18
Lorong McLaren kini menjadi jalur pelariannya. Setiap langkahnya bergema, cepat, memecah sunyi kantor yang biasanya dipenuhi dengan data dan grafik simulasi. Lando menembus ruang-ruang kosong, melewati beberapa kru yang menatap heran, tapi ia tak peduli.
Setiap detik terasa seperti siksaan. Ia membayangkan Oscar duduk sendirian, mungkin masih memikirkan malam-malam panjang, mungkin masih menyimpan luka pipi yang pernah terjadi, atau bahkan rasa takut yang tak pernah ia ungkapkan.
Lando menggenggam ponselnya di saku, terus menekan nomor Oscar, tapi tetap tidak dijawab. Jantungnya berdetak kencang, kepanikan mulai muncul di balik rasa tanggung jawabnya sebagai rekan tim dan-lebih dari itu-sebagai calon kakak ipar yang peduli.
Ia tahu, tak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Satu-satunya tujuan adalah menemukan Oscar, memastikan pria itu berdiri, bernapas, dan tersenyum lagi seperti biasanya.
Dan ia berlari, menembus lorong McLaren, ke parkiran, ke jalanan yang basah oleh hujan sore sebelumnya-siap menghadapi apa pun demi sang pria manis yang kini menjadi pusat dunia Lando.