chandra_logika
Bagi Nara, Gevan adalah variabel perusak dalam hidupnya yang teratur. Nara adalah ketua kelas yang perfeksionis, sementara Gevan adalah biang kerok yang langganan telat dan hobi tidur di jam pelajaran. Keduanya seperti minyak dan air-tidak mungkin bersatu, dan sebaiknya jangan pernah dipertemukan.
Tapi takdir (dan sebuah insiden pot bunga pecah) punya rencana lain.
Hukuman piket membersihkan papan tulis sepulang sekolah selama 30 hari memaksa mereka terjebak di ruang kelas yang sunyi. Tanpa gawai, tanpa teman, hanya ada mereka berdua dan debu kapur/spidol yang menyengat.
Awalnya hanya perang dingin. Namun, segalanya berubah ketika Nara menemukan tulisan kecil di sudut papan tulis yang lupa dihapus Gevan. Sebuah kalimat pendek yang bukan rumus fisika, bukan juga contekan sejarah, melainkan sebuah rahasia.
Papan tulis itu berubah menjadi kotak surat rahasia mereka. Di sanalah dinding kebencian perlahan runtuh, digantikan oleh teka-teki perasaan yang rumit.
Namun, ketika tulisan di papan tulis itu mulai terbaca oleh orang ketiga, dan rahasia Gevan yang sebenarnya terkuak, Nara dihadapkan pada satu pertanyaan besar:
Apakah rasa yang tumbuh di antara debu penghapus ini nyata?
Atau hanya coretan sesaat yang akan hilang begitu bel sekolah berbunyi?