Wiwid_Agus_W
Novel "Di Ujung Suramadu", bukan sekadar kisah cinta biasa atau potret pedesaan semata.
Ia adalah "jembatan penghubung". Sebagaimana Jembatan Suramadu itu sendiri yang menghubungkan dua dunia antara: Jawa dan Madura, tradisi dan modernitas, kampus dan ladang, iman dan pencarian makna hidup.
Dalam alur yang tenang namun dalam, novel ini menyajikan perjumpaan antar budaya, bahasa, dan nilai. Tak ada tokoh antagonis, tetapi justru di sanalah kekuatannya: konflik batin, benturan pemikiran, dan kejujuran hidup menjadi penggerak utama cerita.
Lewat tokoh-tokohnya yang membumi. Poetra dan Zizeh, seorang anak petani yang studi di jurusan Agroekoteknologi, introvert yang pemikir, penggerak inovasi pertanian, hingga pejalan sunyi sufistik. Pembaca diajak menelusuri lapisan demi lapisan persoalan sosial, sejarah lokal, religiusitas, dan cinta sunyi mendalam.
Ini bukan hanya kisah. Ini jembatan rasa, pemikiran, dan harapan. Sebuah undangan untuk memahami tanah, akar, dan manusia dengan cara yang lebih halus namun kuat mengakar.