Zumachan07's Reading List
10 cerita
BISIKAN YANG TAK PERNAH PADAM oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 2
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
Sejak kecil, Nara tahu hidupnya tak akan pernah biasa. Di kelas 1 SD, ia melihat sosok tinggi bermata merah berdiri di sudut kamarnya. Bukan mimpi. Bukan halusinasi. Itu nyata. Kelas 4, tubuhnya dihantam sakit yang tak terdeteksi medis. Santet. Tujuh orang terlibat. Empat meninggal satu per satu dalam misteri yang membuat kampung berbisik. Sejak itu, Nara sadar—dunia tak kasat mata bukan sekadar cerita. Di pesantren, ia dikenal sebagai tabib muda. Santri kesurupan sembuh di tangannya. Ia mampu melihat jarak jauh, mengetahui yang tersembunyi, membaca tanda-tanda yang tak dipahami orang lain. Namun kekuatan selalu menuntut harga. Suatu malam, ia dihantam sosok yang jauh lebih kuat dari dirinya. Bukan lagi gangguan kecil—melainkan peringatan. Di titik itu, Nara memilih berhenti. Masuk SMA, ia menyembunyikan kemampuannya. Ia ingin hidup normal. Ingin menjadi herbalis, menyembuhkan lewat tanaman, bukan pertempuran gaib. Tapi bisikan itu tak pernah benar-benar padam. Karena kemampuan bukan hanya soal melihat yang tak terlihat— melainkan memilih: menggunakan… atau membiarkannya menguasai. Sebuah kisah tentang anugerah yang terasa seperti kutukan, tentang dendam yang diwariskan, dan tentang seorang perempuan yang belajar bahwa kekuatan terbesar bukan pada apa yang ia miliki… tapi pada apa yang ia lepaskan.
Di Balik Tatapan Tegas oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 3
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
Di kelas, Bu Aruna dikenal sebagai guru yang tegas. Disiplin tanpa kompromi. Tatapannya cukup membuat kelas mendadak sunyi. Sebagian murid bahkan menjulukinya, “Bu Killer.” Namun tak banyak yang tahu, di balik ketegasan itu ada hati yang hangat dan pikiran yang terbuka. Saat bel istirahat berbunyi, ia berubah menjadi sosok yang gemar bercanda, bercerita tentang perjuangannya sendiri, dan menyelipkan filosofi dari kisah ninja favoritnya untuk menyalakan semangat murid-muridnya. Baginya, pendidikan bukan sekadar angka di rapor. Ia ingin muridnya kuat — bukan hanya cerdas. Namun menjadi guru yang teguh pada prinsip bukan tanpa risiko. Kritik orang tua, intrik rekan kerja, hingga bayang-bayang masa lalunya perlahan menguji keyakinannya. Apakah ketegasan masih relevan di zaman yang serba sensitif? Ataukah ia harus melunak dan kehilangan jati diri? Ketika satu kelas mulai berubah, satu sekolah mulai terusik. Ini bukan sekadar kisah tentang guru galak. Ini tentang keberanian mempertahankan nilai, tentang luka yang dibalut dedikasi, dan tentang bagaimana satu sosok bisa menjadi “sensei” kehidupan bagi generasi yang hampir kehilangan arah. Karena kadang, yang terlihat paling keras… justru yang paling peduli.
Gelar di Balik Duka oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 2
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
​Satu tahun pernikahan, dua impian besar, dan satu kehilangan yang mengubah segalanya. ​Bagi Binti, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Namun, status "honorer" memaksanya turun ke jalan, berteriak di bawah terik matahari demi sebuah pengakuan. Di tengah hiruk-pikuk tuntutan hak, ada nyawa kecil yang sedang tumbuh di rahimnya—sebuah anugerah yang ia jaga di sela-sela kelelahan yang luar biasa. ​Namun, garis takdir berkata lain. Kesibukan yang menguras raga membuatnya harus merelakan sang buah hati sebelum sempat menyapa dunia. Duka itu datang beruntun; tubuhnya tumbang oleh demam sebulan penuh, sementara jiwanya remuk oleh rasa bersalah. ​Di saat dunianya seolah runtuh, ada tangan sang suami yang tak pernah lepas menggenggam. Meski badai pertengkaran sempat mampir untuk menguji keselarasan langkah mereka, cinta jugalah yang menyembuhkan. ​Kini, nama Binti Zumaroh telah bersanding dengan gelar S.Pd.GSD., Gr. dan status ASN yang ia impikan. Gelar itu bukan sekadar deretan huruf, melainkan saksi bisu dari air mata, keringat, dan sebuah janji setia di tahun pertama pernikahan yang penuh intrik. ​"Karena terkadang, untuk mendapatkan gelar yang kita impikan, kita harus melalui ujian hidup yang paling menyakitkan."
Agenda di Balik Mihrab oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 0
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
​Dua Anak Sulung. Satu Perjodohan. Sepuluh Ribu Ekspektasi. ​Bagi Aruna, hidup adalah deretan spreadsheet yang harus centang hijau. Sebagai anak sulung dari seorang guru agama terpandang, "celah" adalah kata haram dalam kamusnya. Ia adalah wanita karier yang presisi, pengatur jadwal yang gila kontrol, dan tameng bagi keempat adiknya. Baginya, pernikahan adalah proyek baru yang harus ia kelola dengan sempurna. ​Namun, variabel yang tidak bisa ia atur muncul dalam wujud Bagas. ​Bagas adalah kebalikan dari keteraturan Aruna. Sebagai anak sulung dari keluarga biasa, ia terbiasa hidup "mengalir" demi menopang beban ekonomi adik-adiknya. Bagas adalah Capricorn yang keras kepala namun penyabar, yang percaya bahwa rumah seharusnya menjadi tempat untuk melepas sepatu sembarangan, bukan tempat mengikuti instruksi. ​Di tahun pertama, rumah mereka menjadi medan tempur antara list organizer Aruna dan jiwa bebas Bagas. Aruna terjebak dalam badai emosi Cancer-nya yang moody, sementara Bagas mencoba memahami bahasa cinta di balik aturan-aturan kaku istrinya. ​Saat tuntutan keluarga besar mulai menekan dan topeng kesempurnaan Aruna retak, ia baru menyadari satu hal: Bagas tidak datang untuk merusak jadwal hidupnya, melainkan untuk menjadi satu-satunya orang yang memeluknya saat ia lelah menjadi "si sulung yang serbabisa". ​Bisakah cinta tumbuh di antara dua orang yang sama-sama terbiasa memberi, tapi lupa cara menerima?
September Yang Sunyi  oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 25
  • WpVote
    Vote 16
  • WpPart
    Bab 25
Tidak semua jodoh datang dengan cara yang riuh. Sebagian hadir pelan... hampir tanpa suara. September mempertemukan mereka dalam sebuah perjodohan yang terasa kaku dan asing. Tak ada percakapan panjang, tak ada janji manis. Hanya dua orang yang duduk berhadapan, sama-sama membawa luka dari masa lalu. Ia-perempuan yang tiga kali gagal menikah karena bayang-bayang mantan yang tak rela melepas. Ia-lelaki yang lama sendiri setelah ditinggal menikah oleh cinta pertamanya. Oktober mengubah sunyi menjadi percakapan. November menguatkan keyakinan dalam sebuah pertunangan. Februari menjadi saksi ijab kabul yang sederhana, namun penuh doa. Di tengah ancaman masa lalu, tekanan keadaan, dan bisikan ragu, mereka dihadapkan pada pilihan: mundur... atau melangkah dengan percaya. Namun yang tak pernah ia tahu, ternyata ada doa yang lebih dulu berjalan sebelum pertemuan itu terjadi. September yang Sunyi adalah kisah tentang keberanian membuka hati sekali lagi, tentang restu orangtua yang sering kali lebih jernih melihat masa depan, dan tentang jodoh yang tidak datang dengan drama-melainkan dengan ketenangan. Karena kadang, yang terlihat seperti perjodohan biasa... adalah jawaban dari doa yang dipanjatkan diam-diam. 🤍
Tubuh yang Bertahan, Hati yang Belajar Pulang oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 4
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 15
Sejak SMP, Aluna hidup dengan sesuatu yang ia anggap sepele-sebuah benjolan kecil di dadanya. Ia tak pernah benar-benar peduli... sampai tubuhnya mulai sering menyerah saat kuliah. Imunitas rendah. Sinusitis kronis. Rumah sakit jadi tempat yang lebih sering ia datangi daripada kafe kampus. Di tengah tumpukan obat, tugas kuliah, dan tatapan orang-orang yang berkata, "Kamu kelihatan baik-baik saja kok," Aluna pelan-pelan belajar satu hal yang tak pernah diajarkan siapa pun: menerima tubuhnya sendiri. Saat ketakutan tentang masa depan menghantui, saat persahabatan retak karena salah paham, dan saat cinta datang di waktu yang tidak tepat, Aluna dihadapkan pada pilihan paling sulit-terus membenci tubuhnya, atau mulai berdamai dengannya. Ini bukan kisah tentang perempuan yang sembuh. Ini kisah tentang perempuan yang bertahan. Dan kadang... itu sudah lebih dari cukup.
PEREMPUAN YANG TAK PERNAH DIPILIH oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 7
  • WpVote
    Vote 7
  • WpPart
    Bab 10
Sejak kecil, Nara terbiasa sendirian. Bukan karena ia tak ingin punya teman - tapi karena dunia selalu merasa tak nyaman di dekatnya. Ia terlalu jujur di dunia yang penuh basa-basi. Terlalu lurus di antara orang-orang yang memilih jalan pintas. Terlalu berbeda untuk dimengerti. Orang-orang tak pernah benar-benar membencinya. Mereka hanya... tidak pernah memilihnya. Ini bukan kisah tentang gadis yang belajar disukai. Ini kisah tentang gadis yang akhirnya mengerti - ia tidak diciptakan untuk mengikuti keramaian, melainkan untuk berjalan di jalannya sendiri.
KUMPULAN RASAN RASAN: Celoteh Blendhus Dan Kancil oleh Wiwid_Agus_W
Wiwid_Agus_W
  • WpView
    Membaca 182
  • WpVote
    Vote 31
  • WpPart
    Bab 16
KUMPULAN RASAN RASAN Berisi percakapan-percakapan kecil antara Kancil dan Blendhus, dua orang dengan cara berpikir yang sering tidak sejalan. Blendhus lurus, serius, dan gemar berteori. Kancil acak, konyol, tapi kerap menampar logika dengan kenyataan sehari-hari. Dari rokok, kopi sachet, toilet, sampai mimpi yang terlalu mahal untuk ditabung, mereka bercanda sambil menguliti hidup pelan-pelan. Buku ini tidak menawarkan jawaban, apalagi nasihat. Ia hanya mengajak pembaca duduk sebentar, mendengar rasan-rasan, lalu tertawa kecil. Itu semua sebelum sadar bahwa yang dibicarakan itu sering kali hidup kita sendiri.
Aku Bukan Proyek Kesempurnaan oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 56
  • WpVote
    Vote 21
  • WpPart
    Bab 30
Naira lahir bukan sebagai anak... tapi sebagai harapan yang dibebani standar. Sebagai putri dari dua guru agama, hidupnya tak pernah benar-benar miliknya. Sejak kecil ia diajari satu hal: anak baik tidak membantah, anak pintar tidak gagal, anak guru tidak boleh memalukan. Ia tumbuh dalam rumah yang penuh nasihat... tapi miskin pelukan. Penuh aturan... tapi sepi pengertian. Sekolahnya berpindah-pindah sesuai keputusan orang tua. Mimpinya dipatahkan sebelum sempat tumbuh. Pilihan hidupnya diarahkan, dikunci, lalu disebut "demi kebaikan". Saat akhirnya ia mencoba memilih jalan sendiri - membangun usaha herbal, berharap pada kemampuannya sendiri - kalimat itu menghantam lebih keras dari kegagalan: "Nggak akan laku jualanmu." Dan anehnya, luka terdalam bukan datang dari orang asing... tapi dari ibu yang paling ingin ia banggakan. Beberapa perjodohan gagal membuatnya diam-diam merasa bebas. Namun ketika perjodohan itu akhirnya berhasil, Naira justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia punya sebelumnya: diterima tanpa harus sempurna. Tapi luka masa kecil tidak hilang hanya karena statusnya berubah menjadi istri. Di antara tuntutan menjadi anak berbakti dan keinginan menjadi diri sendiri, Naira harus memilih: Tetap hidup sebagai kebanggaan orang tua... atau belajar menjadi manusia yang boleh salah. Sebuah kisah tentang tekanan, luka yang tak terlihat, dan perjalanan seorang perempuan untuk berkata pelan namun tegas: "Aku bukan proyek kesempurnaan. Aku manusia."
Namun Kita Tidak Kembali  oleh Zumachan07
Zumachan07
  • WpView
    Membaca 70
  • WpVote
    Vote 47
  • WpPart
    Bab 30
Cinta yang paling berat bukan yang hilang, tapi yang tak pernah selesai diucapkan. Ia pernah jadi bagian dari rencana besarku namun sekarang dia menjadi nama yang terlupakan. Nama yang terasa permanen di usia yang serba sementara. Namun waktu tidak bekerja dengan logika hati-ia berjalan lurus, tanpa negosiasi tanpa pemberitahuan. Aku memilih masa depanku dengan berani: membangun rumah, bukan lagi mengejar bayangan. Menikah dengan seseorang yang hadir dengan kepastian, bukan pertanyaan yang ditunda tapi pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Sementara ia masih sendiri, bukan karena ia gagal, melainkan karena hidup kami memang tidak lagi satu roadmap. Ada hati yang ditakdirkan jadi chapter, bukan destination. Namun Kita Tidak Kembali bukan cerita tentang melupakan, tapi melepaskan. ini cerita tentang menyelesaikan yang sempat menggantung. Tentang memaafkan tanpa perlu kembali, tentang tumbuh tanpa perlu saling memiliki lagi. Karena kedewasaan terbesar dalam cinta bukanlah bertahan- tapi tahu kapan harus menutup buku, tanpa membenci halaman yang pernah dibaca.