bhocilbontot
- Reads 152
- Votes 59
- Parts 12
Jogja, hujan, dan Sa.
Di kota yang gemar menyimpan rindu, Hatta kerap terhenti di sudut-sudut jalan yang diam-diam menyebut nama Sa. Tiga tahun lebih mereka saling mencintai, menanam janji di antara tawa dan harap. Namun waktu memilih jalan lain, cinta itu runtuh sebulan sebelum angka Empat sempat dirayakan.
Kesalahan yang Hatta lakukan menjelma luka yang terus berdenyut. Dari penyesalan itu, ia belajar bahwa cinta bukan tentang memberi sebanyak mungkin, melainkan tentang hadir sepenuhnya: memahami tanpa menuntut, menghargai tanpa syarat, dan bertahan ketika keadaan tak lagi mudah.
Sasa pernah berkata pelan, "Jogja adalah kita. Dan setiap hujan yang jatuh, selalu membawa pulang cerita tentang kita."
Maka Hatta membiarkan dirinya larut dalam hari-hari yang gelisah. Menyusuri Malioboro di bawah langit yang basah, membiarkan hujan menghapus sisa-sisa ego yang dulu memisahkan. Di kota yang selalu memberi ruang untuk pulang, Hatta bertanya pada dirinya sendiri, apakah rindu yang setia ini cukup untuk menuntun Sa kembali ke hidupnya?