Ethelwint
Dwi, seorang pelajar SMP berusia 14 tahun asal Cirebon, tumbuh dalam kehidupan yang sejak kecil membuatnya merasa seperti debu-tak dianggap, terbawa angin, dan nyaris tak terlihat. Namun di balik semua itu, ada satu kata yang selalu ia pegang erat saat dunia bertanya apakah ia ingin menyerah: "Tidak."
Keluarga yang dahulu terasa hangat dan damai perlahan berubah sejak ia jatuh sakit di usia sebelas tahun. Sejak saat itu, rumah bukan lagi tempat paling tenang, melainkan ruang yang dipenuhi amarah dan luka yang berulang. Meski begitu, Dwi memilih diam, bertahan, dan menyimpan semua perasaannya sendiri.
Di sekolah, Dwi dikenal sebagai siswa yang baik, rajin, dan berbeda dari kebanyakan. Ia tidak mencari perhatian, tidak membuat masalah-ia hanya ingin semuanya berjalan baik. Di kelas 3 SMP, ia menemukan dunia kecil yang membuatnya merasa hidup: persahabatannya dengan Putra, sahabat yang selalu menemaninya; Brian yang membawa tawa; dan Lutfi yang menjadi pelengkap kehangatan obrolan mereka.
Hari-hari di sekolah menjadi pelarian terbaik bagi Dwi. Di antara tugas matematika, canda ringan, kantin sekolah, dan guru-guru yang menyenangkan, Dwi menemukan arti kebersamaan yang tidak ia dapatkan di rumah. Meski berada di kelas yang penuh siswa berprestasi dan persaingan diam-diam, Dwi dan teman-temannya tetap berjalan dengan cara mereka sendiri-tanpa iri, tanpa dendam.
Namun saat bel pulang berbunyi dan langkah kaki kembali menuju rumah, Dwi kembali pada kenyataan. Ia memilih tersenyum, bermain game, dan mengabaikan kesuraman yang ada, bukan karena ia tak terluka-melainkan karena ia tak ingin orang-orang yang ia sayangi ikut merasakan kecewa.
Ini adalah kisah tentang seorang anak yang belajar kuat tanpa pernah merasa benar-benar kuat. Tentang persahabatan sederhana yang menjadi cahaya. Dan tentang seseorang yang mungkin tak pernah meminta bahagia untuk dirinya sendiri-karena yang ia inginkan hanyalah melihat orang lain tetap tersenyum.
"Karya: EthelwintS