Rhanara
Bagi Erlangga dan Maira, kedekatan mereka bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan; itu adalah fakta alam. Sejak jemari mereka masih saling bertaut di taman kanak-kanak hingga kini sama-sama terjebak di ruang sekretariat HIMA yang gerah, mereka memiliki frekuensi rahasia yang hanya bisa didengar oleh keduanya. Semua orang tahu mereka sedekat nadi, namun semua orang juga tahu ada garis tak kasatmata yang menjaga mereka untuk tetap saling memiliki tanpa pernah saling terikat.
Namun, mereka lupa. Tidak ada gelembung yang selamanya aman dari jarum realita. Ketika ruang rapat HIMA mulai dipenuhi ego dan ekspetasi, koneksi yang mereka agungkan justru mulai terasa mencekik. Erlangga memilih mundur dan berbalik arah, mengejar tujuan baru yang sengaja ia ciptakan sebagai pelarian. Ketika jarak dipaksa hadir diantara dua orang yang tidak pernah tahu cara hidup berjauhan, apakah diam akan menjadi jawaban, atau justru menjadi awal dari perpisahan yang abadi?