SurabayaCrossdresser
- Reads 3,724
- Votes 16
- Parts 6
Hari itu hujan turun tanpa jeda. Rintiknya seperti tirai kelabu yang menutup langit, membasahi tanah pemakaman yang merah dan lengket. Aroma bunga melati bercampur tanah basah menusuk hidung, dan udara sejuk yang menyelimuti membuat semua yang hadir terdiam lebih lama dari biasanya. Di antara payung-payung hitam dan wajah-wajah yang menunduk, satu sosok berdiri paling dekat ke liang lahat-Arman.
Ia tak berkata sepatah pun sejak tadi. Diam. Kaku. Matanya menatap nisan baru yang tertancap dingin di atas tanah basah itu. Tidak ada air mata, tidak ada isakan, hanya sorot kosong yang seperti kehilangan cahaya hidup. Tangan Arman memeluk guci abu jenazah Laras seerat mungkin, menempelkannya pada dada seperti bayi yang takut kehilangan ibunya.
Seolah jika ia memeluk cukup erat, Laras akan kembali. Seolah cinta yang masih bersisa di dadanya bisa memanggil roh perempuan itu pulang. Tapi kenyataan tak pernah begitu baik. Laras tetap diam. Mati adalah kata yang tak bisa dinegosiasikan, dan Arman seolah baru mengerti makna itu hari ini.
Dari kejauhan, Nadia, sahabat Laras sejak SMA, memandang diam-diam di balik kerudung hitam yang basah oleh gerimis. Hatinya remuk melihat lelaki itu. Ia tahu betul betapa dalamnya cinta Arman pada Laras. Bahkan saat Laras sakit bertahun-tahun, Arman tak pernah mengeluh. Ia menjelma suami, perawat, sekaligus penyangga kekuatan Laras yang terus melemah.
Namun kini, sepeninggal Laras, tak ada lagi yang menopang Arman. Ia bagaikan pohon yang akarnya dicabut paksa-nyaris tumbang oleh angin pertama yang datang.