YuliaRS4
Hujan datang mendadak di penghujung sore yang riuh, seolah langit menumpahkan seluruh beban yang ia tahan sejak siang. Jalanan berubah menjadi cermin kusam, memantulkan lampu kendaraan dan langkah orang-orang yang bergegas mencari perlindungan. Klakson bersahutan, aroma aspal basah menguar, dan angin membawa butir hujan menyapu wajah siapa saja yang lengah.
Di sebuah halte tua dengan cat kusam yang mengelupas di banyak sisi, Yulia berdiri sendiri. Kedua tangannya mendekap tas kainnya dengan erat, seakan di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada kertas.