THE LECHEN ARCHIVES : PART. 1
5 stories
Too Young, Still Mine by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 28,581
  • WpVote
    Votes 2,823
  • WpPart
    Parts 35
"MAMIHHH!!! AKU PERGI NGEGYM DULU, YA!" Suara Leon menggema dari ruang tamu menuju pintu keluar. Di dapur, Indah Susanto yang sedang menyiapkan makan siang langsung menoleh. Ia berjalan cepat ke arah lorong tengah rumah. "LEON! KAMU BELUM MAKAN!" Terlambat. Pintu depan sudah keburu tertutup keras. Leon memang begitu-nggak sabaran, keras kepala, dan merasa dunia bisa menunggu dia, tapi dia nggak pernah mau menunggu siapa pun. Dengan hoodie hitam dan tas gym di bahu, Leon melangkah santai melewati garasi. Earphone terpasang, pandangannya fokus ke layar ponsel. Ia tidak melihat ke depan. BRUKKK! Tubuhnya menghantam seseorang. "A-aduh... sakit banget..." ringis Leon saat terjatuh di ubin garasi. Tas gym-nya terlempar. Earphone copot. Di depannya, seorang wanita ikut terduduk, tasnya terjatuh, isinya berhamburan. Leon mengangkat kepala-dan membeku. Rambut panjang terurai rapi, wajah dewasa dengan riasan tipis yang elegan, dan tatapan mata yang tajam meski terlihat sedikit terkejut. "Oh my..." gumam wanita itu. "L-loh... Tante Aralie??" Abigail Rachelie Pattynama. Teman dekat mamahnya. Wanita itu mencoba berdiri, tapi tubuhnya limbung. Tangannya refleks mencengkeram lengan Leon. Sentuhan itu terlalu lama untuk sekadar keseimbangan. Tatapan Aralie berubah. Ia menatap Leon dari jarak sangat dekat-rahangnya yang tegas, bahunya yang lebar, aroma maskulin yang samar. "Leon...?" suaranya lebih pelan. Lebih dalam. Bukan nada seorang tante yang menyapa anak kecil. PLUK. Tubuh Aralie melemas. "EH TANTE! JANGAN PINGSAN DI SINI!" panik Leon, buru-buru menangkap tubuhnya. Leon tidak sadar. Detik ketika Aralie terjatuh dalam pelukannya- bukan sekadar kecelakaan kecil. Itu adalah awal.
Four Love Coffee Sight by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 6,331
  • WpVote
    Votes 666
  • WpPart
    Parts 7
Bryan Salino baru saja merayakan kelulusannya setelah empat tahun menjadi pejuang revisi di Depok. Rencana utamanya saat ini cuma satu: menikmati status pengangguran dengan rebahan 24/7. Sayangnya, rencana indah itu hancur berantakan hanya karena satu panggilan telepon. Di tengah kabar duka kepergian sang Akung, Papahnya yang harus mendadak dinas ke luar negeri malah memberinya sebuah "warisan" tugas. "Mas Lino... kamu bisa kan, ngurus coffee-shop peninggalan Akung di Bandung?" "S-serius, Pah? Aku nyeduh kopi saset aja kadang airnya kebanyakan!" "Lumayan lho, Mas... lulus langsung jadi bos! Nggak berat kok, kalau nggak salah... masih ada tiga pegawai yang tersisa di sana..." rayu sang Papah dengan nada memohon. Terjebak rasa sayang pada mendiang Akungnya (dan sedikit rayuan jabatan bos), Lino akhirnya menghela napas pasrah. "Yaudah deh, Pah... aku terima." Berbekal tekad seadanya, berangkatlah Lino ke Bandung. Ia pikir, menjadi bos dari 'tiga pegawai lama' akan jadi pekerjaan yang santai. Ia sama sekali tidak tahu kalau kedai kopi itu sedang berada di ujung tanduk, dan ketiga pegawainya adalah sumber dari segala sakit kepala-termasuk salah satu pegawainya yang super judes, tukang debat, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat jantung Lino berdebar tidak karuan. Selamat datang di Bandung, Lino. Selamat tinggal, masa rebahan!
S-Class by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 4,268
  • WpVote
    Votes 400
  • WpPart
    Parts 5
"Kim... kok lo g-gitu sih ke gue... nghhh... jangan diinjek!!" Napas Arvid tertahan. Laki-laki itu terbaring pasrah di atas kasur. Tepat di atas perutnya, Kimberly, sahabat masa kecil yang selalu terlihat polos itu, justru duduk santai dengan senyuman penuh kemenangan. "I'm so sorry, Vid. Mereka berdua ternyata asik juga. Ya kan, Line?" ucap Kimmy. "Hahaha... of course!" Oline melipat kedua tangan di dada, menatap Arvid layaknya mangsa yang sudah masuk ke dalam perangkap. "Enjoy it while you can, my dear Arvid," bisik Delynn tepat di telinga laki-laki itu, membuat sisa pertahanan Arvid hancur berantakan. Satu sahabat masa kecil yang diam-diam manipulatif. Dua perempuan elegan pindahan dari Cambridge yang terlalu posesif. Awalnya mereka saling bersaing, tetapi kini justru membentuk aliansi yang mematikan. Terjebak di bawah kendali ketiga perempuan S-Class ini, apakah Arvidiel Zamorano mampu bertahan sampai akhir? Atau laki-laki ini memang sengaja menyerah begitu saja? Who knows...
Lunatic by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 2,315
  • WpVote
    Votes 172
  • WpPart
    Parts 5
In that moment... "So... choose me... Kim..." Delynn semakin meyakinkan Kimi. "Gue... udah nemenin lu hampir 10 tahun..." Levi menyela, sampai-sampai meninggikan suaranya. Pilihan sulit bagi Kimi, sungguh pressure yang sangat amat berat. Apakah Kimi bisa bertahan?