#ProjectLechenNewEra
5 stories
Too Young, Still Mine by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 19,494
  • WpVote
    Votes 1,925
  • WpPart
    Parts 25
"MAMIHHH!!! AKU PERGI NGEGYM DULU, YA!" Suara Leon menggema dari ruang tamu menuju pintu keluar. Di dapur, Indah Susanto yang sedang menyiapkan makan siang langsung menoleh. Ia berjalan cepat ke arah lorong tengah rumah. "LEON! KAMU BELUM MAKAN!" Terlambat. Pintu depan sudah keburu tertutup keras. Leon memang begitu-nggak sabaran, keras kepala, dan merasa dunia bisa menunggu dia, tapi dia nggak pernah mau menunggu siapa pun. Dengan hoodie hitam dan tas gym di bahu, Leon melangkah santai melewati garasi. Earphone terpasang, pandangannya fokus ke layar ponsel. Ia tidak melihat ke depan. BRUKKK! Tubuhnya menghantam seseorang. "A-aduh... sakit banget..." ringis Leon saat terjatuh di ubin garasi. Tas gym-nya terlempar. Earphone copot. Di depannya, seorang wanita ikut terduduk, tasnya terjatuh, isinya berhamburan. Leon mengangkat kepala-dan membeku. Rambut panjang terurai rapi, wajah dewasa dengan riasan tipis yang elegan, dan tatapan mata yang tajam meski terlihat sedikit terkejut. "Oh my..." gumam wanita itu. "L-loh... Tante Aralie??" Abigail Rachelie Pattynama. Teman dekat mamahnya. Wanita itu mencoba berdiri, tapi tubuhnya limbung. Tangannya refleks mencengkeram lengan Leon. Sentuhan itu terlalu lama untuk sekadar keseimbangan. Tatapan Aralie berubah. Ia menatap Leon dari jarak sangat dekat-rahangnya yang tegas, bahunya yang lebar, aroma maskulin yang samar. "Leon...?" suaranya lebih pelan. Lebih dalam. Bukan nada seorang tante yang menyapa anak kecil. PLUK. Tubuh Aralie melemas. "EH TANTE! JANGAN PINGSAN DI SINI!" panik Leon, buru-buru menangkap tubuhnya. Leon tidak sadar. Detik ketika Aralie terjatuh dalam pelukannya- bukan sekadar kecelakaan kecil. Itu adalah awal.
S-Class by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 1,460
  • WpVote
    Votes 188
  • WpPart
    Parts 3
"Kim... kok lo g-gitu sih ke gue... nghhh... jangan diinjek!!" Napas Arvid tertahan. Laki-laki itu terbaring pasrah di atas kasur. Tepat di atas perutnya, Kimberly, sahabat masa kecil yang selalu terlihat polos itu, justru duduk santai dengan senyuman penuh kemenangan. "I'm so sorry, Vid. Mereka berdua ternyata asik juga. Ya kan, Line?" ucap Kimmy. "Hahaha... of course!" Oline melipat kedua tangan di dada, menatap Arvid layaknya mangsa yang sudah masuk ke dalam perangkap. "Enjoy it while you can, my dear Arvid," bisik Delynn tepat di telinga laki-laki itu, membuat sisa pertahanan Arvid hancur berantakan. Satu sahabat masa kecil yang diam-diam manipulatif. Dua perempuan elegan pindahan dari Cambridge yang terlalu posesif. Awalnya mereka saling bersaing, tetapi kini justru membentuk aliansi yang mematikan. Terjebak di bawah kendali ketiga perempuan S-Class ini, apakah Arvidiel Zamorano mampu bertahan sampai akhir? Atau laki-laki ini memang sengaja menyerah begitu saja? Who knows...
Four Love Coffee Sight by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 1,316
  • WpVote
    Votes 151
  • WpPart
    Parts 2
Bryan Salino baru saja merayakan kelulusannya setelah empat tahun menjadi pejuang revisi di Depok. Rencana utamanya saat ini cuma satu: menikmati status pengangguran dengan rebahan 24/7. Sayangnya, rencana indah itu hancur berantakan hanya karena satu panggilan telepon. Di tengah kabar duka kepergian sang Akung, Papahnya yang harus mendadak dinas ke luar negeri malah memberinya sebuah "warisan" tugas. "Mas Lino... kamu bisa kan, ngurus coffee-shop peninggalan Akung di Bandung?" "S-serius, Pah? Aku nyeduh kopi saset aja kadang airnya kebanyakan!" "Lumayan lho, Mas... lulus langsung jadi bos! Nggak berat kok, kalau nggak salah... masih ada tiga pegawai yang tersisa di sana..." rayu sang Papah dengan nada memohon. Terjebak rasa sayang pada mendiang Akungnya (dan sedikit rayuan jabatan bos), Lino akhirnya menghela napas pasrah. "Yaudah deh, Pah... aku terima." Berbekal tekad seadanya, berangkatlah Lino ke Bandung. Ia pikir, menjadi bos dari 'tiga pegawai lama' akan jadi pekerjaan yang santai. Ia sama sekali tidak tahu kalau kedai kopi itu sedang berada di ujung tanduk, dan ketiga pegawainya adalah sumber dari segala sakit kepala-termasuk salah satu pegawainya yang super judes, tukang debat, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat jantung Lino berdebar tidak karuan. Selamat datang di Bandung, Lino. Selamat tinggal, masa rebahan!
Lunatic by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 2,001
  • WpVote
    Votes 172
  • WpPart
    Parts 5
In that moment... "So... choose me... Kim..." Delynn semakin meyakinkan Kimi. "Gue... udah nemenin lu hampir 10 tahun..." Levi menyela, sampai-sampai meninggikan suaranya. Pilihan sulit bagi Kimi, sungguh pressure yang sangat amat berat. Apakah Kimi bisa bertahan?
Not My Wife (is that true?) by virolechen
virolechen
  • WpView
    Reads 429
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 1
Semua orang bilang pernikahan Catherina Vallencia dan Emilian Albono adalah akhir yang bahagia. Perempuan yang lembut dan sederhana dipersunting oleh anak konglomerat yang hidup dalam kemewahan. Tapi tidak ada yang tahu, pernikahan itu lahir dari paksaan-rencana orang tua untuk mengubah Emil yang liar, keras kepala, dan tenggelam dalam dunia malam. Di malam pernikahan yang seharusnya jadi awal bahagia, semuanya justru terasa salah. "Nama lo bagus banget... Catherina Vallencia," ucap Emil sambil menyender santai di mobilnya, menatapnya dari atas ke bawah. "Tapi kenapa hidup lo di kampung?" Erine terdiam, jemarinya saling menggenggam, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba sesak. "Mas... bisa nggak sih ngomongnya lebih baik sedikit?" Emil terkekeh pelan, dingin. "Gue cuma jujur. Atau lo nggak biasa denger yang kayak gini?" "Itu bukan jujur... itu nyakitin." "Lah gue nanya doang. Baper amat." Emil mengangkat bahu, lalu membuka pintu mobilnya. "Oh ya, jangan berharap lebih. Pernikahan ini cuma buat nyenengin orang tua gue." Tanpa menunggu jawaban, Emil masuk ke mobil dan pergi begitu saja, meninggalkan Erine sendirian di parkiran, masih dengan gaun pengantinnya. Tanpa cinta. Tanpa rasa. Hanya status: suami istri. Erine menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Di tengah sepinya malam dan dinginnya angin, ia menarik napas dalam-dalam. "Aku akan mengubah hidupmu... dan sifatmu, Mas Emil..." gumamnya pelan. Bagi Emil, pernikahan ini hanyalah formalitas. Tapi bagi Erine, ini adalah awal dari perjuangan-sebuah keyakinan bahwa suatu hari, hati yang dingin itu bisa berubah. Namun di antara kerasnya dunia Emil dan lembutnya tekad Erine, satu hal menjadi pertanyaan-siapa yang akan lebih dulu menyerah?