mazbintang
Tatang dan Bowo, dua pemuda pengangguran dari Desa Kemiri, dikenal sebagai "Jama'ah Setia" acara tahlilan. Bukan karena religius, tapi karena prinsip Tatang: "Asal Gratis, Harus Habis".
Suatu malam, notifikasi grup WA membawa mereka ke alamat duka di Gang Mawar yang sepi. Insting Bowo mengatakan ada yang janggal; tidak ada suara Yasin, tidak ada aroma masakan, hanya keheningan mencekam. Namun, pemandangan tumpukan nasi berkat membuat akal sehat mereka hilang.
Mereka masuk ke rumah joglo besar yang dipenuhi kabut, duduk bersama orang-orang pucat tak bernyawa, dan menerima dua kotak nasi berkat dari seorang ibu tua bersuara serak. Saat mencoba pulang, mereka sadar telah terjebak dalam putaran gaib. Jalanan menghilang, motor lenyap, dan hidangan gratis itu berubah menjadi teror yang mengintai dari balik kabut.
Ikuti kisah horor Tatang dan Bowo yang harus membayar mahal untuk sepiring nasi gratis. Apakah mereka berhasil keluar dari simfoni puji-pujian yang sumbang itu, ataukah "berkat" itu akan menjadi santapan terakhir mereka?