𝐨𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐫𝐨𝐦𝐚𝐧𝐜𝐞
2 cerita
Viable oleh ellauri_
ellauri_
  • WpView
    Membaca 3,080
  • WpVote
    Vote 305
  • WpPart
    Bab 21
(Follow dulu sebelum baca!) Di balik kaca laboratorium, Beryl Nadhira Prameswari menghabiskan hari-harinya berbicara dengan kehidupan yang belum sempurna-sel-sel berukuran mikroskopis yang suatu hari akan menjadi manusia. Sebagai embriolog, ia lebih nyaman dengan pipet dan inkubator ketimbang dengan manusia dewasa. Terutama laki-laki. Trauma keluarga mengajarinya satu hal, cinta hanya menghasilkan luka. Hingga dr. Abyaz Aryasatya Gunawan, Sp.N-direktur rumah sakit berdarah bangsawan yang hidupnya seserius diagnosis medis-melihatnya dari balik jendela ruang transfer embrio. Satu tatap mata. Satu detik. Dan seluruh kehidupan teraturnya runtuh. Abyaz, yang tak pernah percaya pada cinta sejak sahabatnya meninggal karenanya, tiba-tiba memahami mengapa orang bisa mati untuk perasaan ini. Tapi Beryl bukan pasien yang bisa ia diagnosa. Bukan masalah yang bisa ia selesaikan dengan logika medis. Ia adalah wanita yang membangun tembok setinggi trauma masa lalunya-dan Abyaz harus memutuskan: menyerah, atau membuktikan bahwa tidak semua cinta berakhir dengan kesakitan. "Beberapa kehidupan dimulai dari sel tunggal. Begitu pula cinta." Genre: Medical Romance | Slow Burn | Trauma Healing ⚠️ Mengandung tema KDRT (tidak eksplisit), trauma keluarga, dan proses penyembuhan emosional.
Abhipraya oleh ellauri_
ellauri_
  • WpView
    Membaca 12,913
  • WpVote
    Vote 939
  • WpPart
    Bab 43
Bagi Liora Bianca, skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan pembuktian diri. Namun, dunia yang ia susun dengan rapi runtuh dalam satu sore di ruang dosen pembimbing. Judul dan penelitian yang ia siapkan dengan cucuran keringat, justru diajukan lebih dulu oleh teman kepercayaannya sendiri. Di tengah isak tangis yang pecah di selasar Rektorat yang sepi, Liora tidak menyangka akan ditemukan oleh Sagara Ararya Danindra. Sagara bukanlah pria misterius yang bersembunyi di balik bayang-bayang; ia adalah sekretaris rektor yang efisien, tenang, dan memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Pertemuan yang diawali dari air mata itu perlahan menumbuhkan renjana yang tak terduga. Di saat Liora kehilangan kata-kata untuk memperjuangkan haknya, Sagara hadir sebagai jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kekecewaan. Ini bukan hanya tentang pencurian sebuah ide, tapi tentang bagaimana Liora menemukan kembali suaranya di antara tumpukan kertas dan perasaan yang mulai tumbuh di lorong kampus.