ellauri_
- Membaca 3,080
- Vote 305
- Bab 21
(Follow dulu sebelum baca!)
Di balik kaca laboratorium, Beryl Nadhira Prameswari menghabiskan hari-harinya berbicara dengan kehidupan yang belum sempurna-sel-sel berukuran mikroskopis yang suatu hari akan menjadi manusia. Sebagai embriolog, ia lebih nyaman dengan pipet dan inkubator ketimbang dengan manusia dewasa. Terutama laki-laki.
Trauma keluarga mengajarinya satu hal, cinta hanya menghasilkan luka.
Hingga dr. Abyaz Aryasatya Gunawan, Sp.N-direktur rumah sakit berdarah bangsawan yang hidupnya seserius diagnosis medis-melihatnya dari balik jendela ruang transfer embrio. Satu tatap mata. Satu detik. Dan seluruh kehidupan teraturnya runtuh.
Abyaz, yang tak pernah percaya pada cinta sejak sahabatnya meninggal karenanya, tiba-tiba memahami mengapa orang bisa mati untuk perasaan ini.
Tapi Beryl bukan pasien yang bisa ia diagnosa. Bukan masalah yang bisa ia selesaikan dengan logika medis. Ia adalah wanita yang membangun tembok setinggi trauma masa lalunya-dan Abyaz harus memutuskan: menyerah, atau membuktikan bahwa tidak semua cinta berakhir dengan kesakitan.
"Beberapa kehidupan dimulai dari sel tunggal. Begitu pula cinta."
Genre: Medical Romance | Slow Burn | Trauma Healing
⚠️ Mengandung tema KDRT (tidak eksplisit), trauma keluarga, dan proses penyembuhan emosional.