pr3ttysun_
FOLLOW DULU SEBELUM BACA
DON'T COPY ME!!
"Tidak semua pertemuan diciptakan untuk segera memiliki. Beberapa hanya datang untuk mengajarkan kita cara menunggu."
Bagi Svara Khairunnisa Anindita (Anin), kehidupan di Pondok Pesantren Al-Mahira awalnya terasa begitu sederhana: belajar, mengaji, dan menghabiskan hari bersama tiga sahabatnya-Ira, Maira, dan Kira.
Semuanya berubah ketika sebuah kepanitiaan mempertemukannya dengan Adhyasa Zayyan Pradipta.
Zayyan bukanlah tipe pemuda yang suka mencuri perhatian. Ia tenang, tak banyak bicara, dan lebih sering menunjukkan kepedulian lewat tindakan-tindakan kecil yang tersembunyi.
Namun, di antara riuhnya rapat kepanitiaan, batas-batas aturan pesantren, dan nasihat para pembina, tumbuh sebuah perasaan tulus yang tak pernah mereka rencanakan-dan tak pernah berani mereka ucapkan.
Ketika perasaan itu makin merayap dalam, ujian keteguhan hati pun dimulai. Di balik dinding pesantren yang penuh batasan, Anin dan Zayyan dipaksa memilih: memperjuangkan rasa yang belum waktunya, atau merelakannya pasrah dalam doa.
Sebab terkadang, mencintai tidak selalu berarti harus memiliki saat ini juga. Ada nama yang hanya bisa diselipkan dalam sepertiga malam, dan ada pertemuan yang sengaja ditunda demi kedewasaan.
Namun, bagaimana jika takdir punya caranya sendiri untuk menguji kesabaran mereka?
Apakah waktu akan menyatukan kembali apa yang sempat tertahan, atau Al-Mahira hanya menjadi tempat mereka belajar merelakan?