rewlrell
Buku harian hanya ditulis karena luapan perasaan, tapi mereka malah belajar satu hal.
Keinginan bisa mengambil lebih banyak daripada yang dijanjikan. Satu kata tanpa niat jelas bisa berakhir fatal dari perkiraan.
Zaryn dan Zayn, duo kembar yang terpaksa belajar untuk lebih menjaga lisan maupun tulisannya. Pikiran yang begitu muda dan sifat yang begitu labil harus bisa menyaring emosi, bukan untuk pendewasaan, tapi karena ketakutan yang sunyi.
Setiap halaman adalah kompromi antara niat dan keputusan sesaat. Setiap keinginan ada harga yang harus dibayar. Setiap tulisan adalah penentu bagaimana hari esok akan terbentuk.
Sihir tidak ada di dunia.
Keajaiban tak pernah datang begitu saja.
Mereka hidup dalam dunia nyata.
Dan begitu semua terungkap, mereka sadar bukan bukunya yang ajaib.
Pertanyaannya bukan lagi, "apa yang terjadi?"
Melainkan, "siapa yang bermain di balik layar?"