glxxsn_ashh4
Di Noir, semua orang mengenal Caine Chana
Anak kelas 11-2 yang duduk di bangku paling belakang. Seragamnya selalu rapi. Buku catatannya penuh dengan tulisan tangan kecil yang teratur. Jika guru bertanya, ia menjawab pelan, singkat, lalu menunduk.
Guru-guru menyebutnya anak baik. Teman sekelas memanggilnya hantu karena ia nyaris tak pernah bersuara. Di grup angkatan, namanya hanya muncul ketika ada yang membagikan catatan.
"Caine? Oh, yang pendiam itu."
"Kasihan. Kayaknya dia nggak punya banyak teman."
"Dia terlalu polos buat dunia ini."
Tak ada yang salah dari penilaian itu. Setidaknya, itulah yang terlihat.
Tak seorang pun mempertanyakan mengapa Caine selalu pulang tepat pukul lima, tidak kurang dan tidak lebih.
Tak ada yang curiga dengan tiga ponsel berbeda di tasnya, masing-masing dengan nada dering yang tidak pernah berbunyi di sekolah.
Tak ada yang menyadari bekas luka tipis melingkar di pergelangan tangannya, tersembunyi sempurna di balik jam tangan kulit yang selalu ia kenakan.
Karena siapa yang akan mencurigai anak yang menunduk ketika bicara? Siapa yang akan menuduh anak yang meminta maaf bahkan ketika orang lain yang menabraknya?
Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, telepon dari nomor tanpa nama membangunkannya pukul dua dini hari. Suara di seberang selalu sama-dingin, tegas, memberi koordinat.
Mereka tidak tahu bahwa akhir pekan Caine dihabiskan di sebuah gudang di pelabuhan, mendengarkan pria berjas mahal tertawa sambil membersihkan darah dari buku-buku jarinya.
Mereka juga tidak tahu tentang kamar ketiga di rumahnya. Kamar yang pintunya selalu terkunci. Milik seorang berlian dihidupnnya.
Dan di sekolah, ia hanya Caine.
Caine yang pendiam.
Caine yang polos.
Caine yang meminjamkan penghapus ketika penghapusmu hilang.
Di Noir, hampir semua orang mengenal Caine Chana.
Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar mengenalnya.
Dan ketika mereka akhirnya tahu...
Sudah terlambat untuk lari.
Start : 02-05-2026
End :-