PenulisMengetik
- Reads 1,379
- Votes 295
- Parts 11
Di koridor Gedung Ilmu Komunikasi, semua orang tahu satu aturan tak tertulis: Jangan pernah terjebak dalam frekuensi Levian.
Sebagai sang Social Butterfly sekaligus Flirter kelas berat, Levian punya ribuan cara untuk mengirim pesan "palsu" yang memabukkan. Baginya, semua interaksi hanyalah distorsi untuk menutupi sesuatu. Dia adalah Noise---gangguan indah yang tak pernah membiarkan siapa pun masuk terlalu dalam.
Lalu ada Aralie. Si yang selalu banyak bicara dari Jurnalistik dengan wajah "mahal" dan skeptisisme setinggi langit. Aralie tidak butuh kode-kodean. Dia butuh fakta. Baginya, Levian hanyalah sinyal buruk yang harus segera diputus.
Namun, dalam satu periode kepengurusan Himpunan yang penuh intrik politik kampus dan drama Kasta Tertinggi, frekuensi mereka dipaksa untuk bersinggungan. Di antara debat program kerja, kepulan asap rokok di kantin belakang, dan rahasia yang mulai bocor, Levian menyadari satu hal:
Aralie bukan sekadar pendengar. Dia adalah satu-satunya orang yang mampu menerjemahkan pesan terdalamnya tanpa perlu ia ucapkan.
Saat distorsi mulai menghilang, mampukah mereka menemukan harmoni? Ataukah hubungan mereka hanya akan berakhir menjadi sebatas gangguan yang terlupakan?
Satu frekuensi. Satu narasi. Sebuah resonansi yang tak akan pernah sama lagi.
"Karena di balik setiap kebisingan (Noise), selalu ada frekuensi yang menunggu untuk diselaraskan (Resonance)."