saldik22
- Reads 2,130
- Votes 377
- Parts 11
"Najib, kamu sebagai Ketua OSIS, saya tugasin buat bimbing Rasel
Selama sebulan ke depan, ke mana pun dia pergi, apa pun yang dia lakuin, kamu harus tahu. Dia harus ikut semua kegiatan OSIS setelah jam pulang."
"Hah? Ibu bercanda?!" Rasel langsung tegak. "Saya ikut OSIS? Yang bener aja, Bu! Mending saya disuruh lari keliling lapangan sepuluh kali deh."
"Nggak ada nego, Rasel. Kamu mau dikeluarin atau ikut Najib?"
Rasel bungkam. Dikeluarin berarti dia bakal beneran habis di tangan bokapnya. Dia ngelirik ke samping, ke arah Najib yang dari tadi diem
Najib nggak kelihatan kaget atau keberatan. Dia malah nengok ke arah Rasel, terus senyum tipis banget hampir nggak kelihatan kalau nggak diperhatiin bener-bener
"Mohon bantuannya ya, Rasel," ucap Najib pelan
"Bantuan pala lu peyang," gumam Rasel kasar, tapi Najib cuma bales pake anggukan kecil yang sopan. Sumpah, Rasel paling benci tipe orang yang nggak bisa dipancing emosinya kayak gini