fxmntkaadsttt_
- Reads 23,022
- Votes 1,119
- Parts 30
Bagi velzen, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan sebuah panggung di mana ia selalu menjadi figuran yang tak diinginkan.
Di usia 17 tahun, saat remaja lain merayakan masa muda. Velzen justru harus mendekap rahasia paling mematikan. Leukemia stadium lanjut.
Di bawah atap yang sama, ia menyaksikan tawa hangat Ayah, Bunda, dan saudaranya yang tidak pernah menyisakan kursi untuknya. Velzen terbiasa dengan bentakan, terbiasa dengan tatapan jijik, dan terbiasa dianggap sebagai pembawa sial.
Ia memilih bungkam. Bukan karena tak mampu berteriak, tapi karena ia tahu tak akan ada yang mendengarkan. Ia mencuci noda darah di seragamnya sendirian, menahan sesak di paru-parunya dalam diam, dan terus tersenyum meski raganya kian rapuh.
"Yah, kalau nanti Velzen nggak ada, meja makan bakal terasa lebih luas, kan? Nggak akan ada lagi yang bikin Ayah marah."
Namun, saat lentera itu benar-benar padam dan Velzen menyerah pada takdirnya, barulah mereka menyadari bahwa rumah yang selama ini terang, sebenarnya telah kehilangan cahaya paling tulus yang pernah mereka miliki.
start:13-02-2025
End: