nadess_zii
- Reads 671
- Votes 170
- Parts 14
Bagi Biru Arkananta, masa SMA hanyalah rutinitas untuk mencapai universitas bergengsi. Baginya, lirik lagu "Remaja" yang sering diputar di kantin hanyalah bualan manis tanpa makna. Sampai akhirnya, ia dipasangkan dengan Jingga Syailendra dalam proyek akhir semester bertema "Nostalgia".
Jingga, dengan kamera analog dan senyumnya yang tidak bisa ditebak, menyeret Biru ke tempat-tempat yang tak pernah ia datangi: atap gedung saat matahari terbenam, toko kaset tua, hingga duduk berdua di bawah rintik hujan. Di tengah hiruk-pikuk tugas sekolah, Biru mulai melihat "warna" dalam hidupnya yang selama ini hanya monokrom.
Namun, saat perasaan mulai tumbuh lebih dalam dari sekadar rekan proyek, mereka dihadapkan pada ekspektasi keluarga dan ketakutan akan masa depan. Di masa remaja yang singkat ini, apakah Biru dan Jingga bisa mempertahankan melodi yang sama, ataukah mereka hanya akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam kapsul waktu?