nathpages
- Reads 461
- Votes 307
- Parts 8
"Semesta suka bercanda hal-hal yang tidak lucu."
Dia hanyalah jiwa yang tersesat di celah-celah takdir, hidup dalam tubuh yang masih bernafas namun hati yang telah lama mati. Sara Cempaka berjalan melalui hari-harinya seperti bayang yang tidak benar-benar wujud-ada, tetapi kosong. Tidak ada hari yang berlalu tanpa dia memikirkan niat ingin mati.
Sehinggalah dia bertemu Aksa, seorang barista di kafe kecil di hadapan pejabatnya. Lelaki yang datang seperti cahaya senja yang tidak diundang, tenang, hangat, namun terlalu terang untuk dunia Sara yang telah lama gelap.
"Manusia jarang sedar yang mereka tak selalu perlu buat semuanya seorang diri."
Seperti ombak yang berulang kali menyentuh pantai walaupun tahu akan ditarik kembali ke laut, Aksa terus hadir dalam hidup Sara. Perlahan-lahan meretakkan sunyi yang selama ini dia bina, memaksa hatinya yang mati untuk kembali merasa sesuatu yang telah lama hilang.
"You know, people always say things like... I would die for you. But no, Cik Sara, I will live for you. So please, please, I'm begging you, please don't give up. Please don't lose the battle. Please watch me live for you."
Dan di antara kopi yang semakin sejuk dan senyuman yang tidak pernah diminta, Sara mula sedar yang kadangkala, semesta mempertemukan dua manusia bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengubah arah hidup satu sama lain.
Content Warning:
This story is written for mature readers. It carries heavy themes of depression and suicide. Please read with care.