AskaraHarsa_24
- Reads 14,083
- Votes 1,604
- Parts 35
"Tujuh bulan aku tertidur dalam gelap. Tapi bagiku, kegelapan itu jauh lebih tenang daripada hidup di bawah telapak kaki Ayah."
Saskara Zayden Arutala tidak pernah tahu apa itu rumah yang hangat. Baginya, rumah adalah medan perang, dan Ayah adalah tiran yang tak pernah puas. Sejak kecil, tubuhnya adalah saksi bisu dari setiap tuntutan nilai sempurna yang berakhir dengan siksaan fisik. Satu kesalahan kecil berarti satu lebam baru; satu kegagalan berarti satu malam tanpa alas tidur. Aska dipaksa menjadi sempurna hingga jiwanya retak.