Noir_X_One_1
DI BALIK DERU NAPAS YANG DINGIN
.
Dekapan hangat, manis, liar dan posesif.
Ganda adalah pria yang hidup dalam bayang-bayang. Profesinya sebagai eksekutor Kontrak Nyawa di Ibu Kota menuntutnya untuk selalu stoik, tanpa celah, dan tanpa rasa. Baginya, menyentuh target adalah bagian dari rutinitas yang menjemukan, hingga suatu malam, otoritas tertinggi mengirimkan seorang pengawas untuk mengunci pergerakannya: Gini.
Gini hadir sebagai sebuah pesona yang berbalut gaun modern yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif. Ia datang dengan aroma melati pesisir yang lembap dan tatapan mata yang mampu membedah rahasia terdalam Ganda. Di kamar-kamar hotel mewah dan lorong-lorong ruko yang sunyi, sebuah permainan tarik-ulur yang berbahaya dimulai.
Ganda adalah api yang membara karena sisa-sisa kemanusiaannya, sementara Gini adalah hawa dingin yang menenangkan sekaligus mematikan. Setiap sentuhan Gini di leher Ganda terasa seperti kehangatan sekaligus kematian yang dingin-sebuah kedekatan yang ganjil. Di antara aroma kopi pekat dan gelas kristal yang berkeringat, mereka terjebak dalam pusaran hubungan terlarang.
Gini sering kali mendekat, membisikkan peringatan di telinga Ganda dengan suara lembut yang justru terdengar seperti undangan. Kecupan dingin di kening saat Ganda terpuruk, atau pelukan dari belakang yang begitu posesif, membuat Ganda sadar bahwa ia tidak sedang diawasi oleh seorang musuh, melainkan sedang didekap oleh sesuatu yang menjanjikan surga di tengah dunia yang hancur.
Ketika tugas menuntut nyawa namun batin menginginkan dekapan, Ganda dan Gini menciptakan oase mereka sendiri. Sebuah hubungan yang dibangun di atas kebohongan-kebohongan demi melindungi satu sama lain dari hukuman yang menanti di balik pintu kegelapan.
Saat garis batas antara pengabdian dan hasrat mulai luruh, Ganda harus memilih: tetap menjadi eksekutor yang patuh, atau menyerahkan seluruh detak jantungnya ke dalam pelukan dingin Gini.