Daftar Bacaan KawasanRomance
2 stories
Pergi ke Dunia Naruto by KawasanRomance
KawasanRomance
  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 5
Aku mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan. Cahaya matahari jatuh tepat di wajahku, membuatku harus sedikit menyipitkan mata. Di atas sana, daun-daun bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan bayangan yang bergerak lembut. Suara gesekan dedaunan terdengar jelas, bersih, tanpa gangguan apa pun. Sunyi-- Terlalu sunyi. Aku duduk perlahan, masih mencoba memahami apa yang terjadi. Rumput yang lembap menempel di telapak tanganku, tanah di bawahnya terasa padat dan dingin. Aku memandang ke sekeliling, dan pemandangan yang kulihat hanya mempertegas satu hal. Ini bukan tempat yang kukenal. Pohon-pohon tinggi berdiri di segala arah, batangnya besar dan menjulang, dengan daun yang cukup lebat hingga cahaya matahari hanya bisa masuk melalui celah-celah kecil. Tidak ada bangunan, tidak ada jalan setapak yang jelas, tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. "Hutan...?" gumamku pelan. Suara itu terdengar asing di telingaku sendiri, seolah aku belum terbiasa mendengarnya di tempat seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sambil memaksakan logika bekerja. Mungkin aku tersesat. Mungkin aku dibawa ke sini tanpa sadar. 'Atau mungkin-' Pikiranku berhenti di situ.
Kembali ke masa lalu demi - temanku? by KawasanRomance
KawasanRomance
  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
Yusuf tidak langsung bangun. Ia berbaring diam, membiarkan kesadarannya naik sendiri. Matanya masih terpejam ketika ia memiringkan kepala ke arah jendela. Gelap di luar. 'Sepertinya aku kelewatan'. Ia mendorong tubuhnya bangun. Tenggorokannya kering, khas setelah tidur terlalu lama. Kakinya menyentuh lantai dan mulai bergerak sebelum otaknya benar-benar menyala, keluar kamar, koridor, tangga, tangan kanannya menyentuh pembatas tanpa ia perintahkan. Belokan kiri di ujung tangga, sampai ke dapur. Tangannya menarik gagang kulkas, Raih botol air di rak atas. Buka tutupnya. Teguk. Dingin. Melegakan. Ia menurunkan botol, menghela napas puas, Dan matanya mulai berkeliling. Magnet souvenir di kulkas. Meja kayu dengan kaki yang diganjal kardus. Gelas-gelas yang disusun terbalik di rak. Kalender miring yang tidak pernah ada yang meluruskan. Rasa kantuk di kepalanya menguap seketika. ...Ini bukan apartemenku. Ia tidak bergerak. Botol air masih di tangannya, sementara matanya berpindah dari satu sudut ke sudut lain, semakin cepat. Tempat yang tidak asing, 'Aku sangat tahu tempat ini'. "Hei hei," gumamnya pelan, suaranya terdengar aneh di dapur yang sepi. "Apa aku tidur sambil menyetir ke sini tadi?" Ia mengangkat tangan kiri untuk melihat jam. Tapi jam tangannya tidak ada ada di sana, ia terkejut. Ia mendekatkannya ke cahaya dari kulkas yang belum ia tutup, membalik telapaknya, membaliknya lagi. Jari-jarinya kecil. Ia mengepalkan tangannya pelan. Mencari urat-urat di punggung tangan yang biasanya terlihat jelas ketika ia mengepal. Tidak ada. ...Ini tangan siapa?