lucinvens
Di antara hiruk-pukuk jiwa yang bersatu, Arka Gempa Prasraya hanyalah sebuah titik sunyi yang terlupakan. Ia adalah pelabuhan yang hanya disinggahi saat badai mereda, atau sekadar persinggahan kala "duo-duo" kehangatan saudara-saudaranya sedang meredup. Gempa belajar tersenyum di balik bayang-bayang, menjadi pilihan kedua yang setia memunguti remah-remah perhatian yang tersisa.
Ia adalah pengorbanan yang tidak pernah diminta, namun selalu diberikan. Ia adalah penantian yang tak kunjung menemui muara. Hingga pada satu titik, raga yang tegar itu luruh, dan bilik kamarnya menjadi saksi bisu atas isak tangis yang selama ini ia telan bulat-bulat.
Namun, di tengah retakan jiwanya yang kian menganga, "Sesuatu" terbangun.
Ia bukan orang asing. Ia adalah cermin retak dari diri Gempa sendiri-suara manipulatif yang lahir dari puing-puing kewarasannya. Sosok niskala itu membisikkan racun, menjerat mentalnya dalam labirin gelap yang tak berujung. Gempa ingin lari, namun ia sadar; sejauh apa pun ia melangkah, ia takkan pernah bisa berpaling dari bayangannya sendiri.
Kini, Gempa berada di persimpangan yang rapuh. Akankah ia tetap menjadi pemuda berhati lembut yang suci? Ataukah ia akan tenggelam dan melebur bersama kegelapan yang ia ciptakan sendiri untuk bertahan hidup?
"Karena terkadang, musuh yang paling mematikan bukanlah mereka yang mengabaikanmu, melainkan dirimu yang terlalu lama merasa sepi."