Arum_astri12
- Reads 402
- Votes 91
- Parts 11
⚠️ AUTHOR'S NOTE & WARNING ⚠️
Cerita ini murni berfokus pada dinamika hubungan Karna dan Subadra. Tidak akan ada Arjuna, Pandawa, atau plot pakem lainnya yang mengambil alih panggung mereka. This is a work of fiction born entirely from my own imagination. If you are willing to dive into this alternate fate, you are more than welcome to read. If not, please feel free to leave this story safely. Your respect is highly appreciated 🙏✨️
"Matahari dan Rembulan tak lagi dilarang untuk berdekatan. Dalam kisah yang baru, ketika mereka bersikeras untuk saling mendekap, semesta tidak akan melahirkan Gerhana Petaka. Kali ini, pertemuan mereka adalah harmoni takdir yang akan membawa kedamaian abadi bagi semesta."
Kehidupan demi kehidupan tragis berlalu, menyisakan duka yang mendalam. Sang Rembulan terus mencari, dan Sang Matahari terus menanti dalam sunyi yang membakar, terperangkap oleh takdir kejam yang ditenun oleh kesalahpahaman kuno. Ribuan kali semesta memisahkan mereka dengan cara yang paling perih, menghukum mereka untuk saling merindukan tetapi dilarang untuk saling memiliki.
Takdir itu seolah terkunci mati dengan air mata dan darah perpisahan.
- Janji Subadra
"Sesuai janjiku, di kehidupan mana pun, di bawah langit apa pun... aku akan mencarimu dan jiwaku akan selalu mengenali kehangatanmu."
- Janji Karna
"Ketika langit dan semesta menolak merestui kita, aku tidak akan mengutuk takdir. Sesuai janjiku, aku akan menunggumu. Datanglah padaku lagi, meski aku harus menunggu sampai akhir zaman."
- Janji Krisna
"Sudah cukup semesta mempermainkan rindu kalian. Di kehidupan ini, di atas tanah Dwapara yang akan menjadi saksi, aku izinkan Sang Rembulan mendekap Sang Matahari. Hadapilah, dan rebut kembali takdir kalian."
Waktu berputar balik, menarik paksa jiwa mereka kembali ke linimasa asli. Kembali ke Zaman Dwapara Yuga-zaman yang awalnya memisahkan mereka dengan kejam, tempat di mana janji tragis itu pertama kali terucap.