ReichAntic
- Reads 1,495
- Votes 344
- Parts 60
Saat Perang Besar Antar Ras berkecamuk, Zarveth yang masih seorang anak memilih tetap berada di medan perang daripada melarikan diri. Sejak saat itu, ia memahami satu hal: perdamaian sejati tidak pernah ada di dunia yang kejam ini.
Bertahun-tahun kemudian, ketika semua pihak kelelahan oleh perang, tiga kekuatan terbesar di benua akhirnya mencapai kesepakatan. Bangsa elf Neiflim, manusia Arsteim, dan kurcaci Mouncastell membentuk sebuah pakta perdamaian demi mengakhiri pertumpahan darah yang telah berlangsung terlalu lama.
Namun perdamaian yang lahir bukanlah kedamaian, melainkan keseimbangan yang dipertahankan dengan mengorbankan siapa pun yang dianggap mengancamnya.
Kerajaan-kerajaan kecil menghilang dari peta. Perbatasan berubah tanpa peringatan. Ketakutan memaksa banyak bangsa bergabung dengan pakta tersebut hanya demi bertahan hidup. Dan ketika akhirnya perang besar berakhir, dunia tidak benar-benar pulih.
Pengkhianatan masih mengintai di balik perjanjian. Semua pihak tahu bahwa pakta itu hanyalah selembar dokumen yang dapat dilanggar kapan saja.
Sementara kerajaan-kerajaan sibuk menjaga keseimbangan yang rapuh, ras monster berkembang tanpa kendali. Di balik layar, faksi-faksi tentara bayaran merencanakan revolusi. Ketegangan diplomatik antarbangsa terus meningkat, membawa benua selangkah lebih dekat menuju perang besar berikutnya.
Di tengah dunia yang perlahan menuju kehancuran itu, Zarveth hidup dengan cara dan pilihan-pilihannya sendiri, menghadapi konflik moral, ambisi yang saling bertabrakan, dan prinsip-prinsip yang terus diuji oleh kenyataan. Bukan sebagai pahlawan. Bukan pula sebagai penyelamat.
Setiap keputusan yang ia ambil membawa konsekuensi, dan tanpa disadarinya, setiap langkah yang ia tempuh perlahan menyeretnya ke pusat konflik yang dapat menentukan nasib seluruh benua.
Ketika dunia kembali bergerak menuju perang, satu pertanyaan pun muncul:
Bukan apakah dunia dapat diselamatkan. Tapi dapatkah Zarveth bertahan hidup sampai akhir?