event faza
45 stories
Kumpulan Cerpen Juneachneun89 by Juneachneun89
Juneachneun89
  • WpView
    Reads 545
  • WpVote
    Votes 212
  • WpPart
    Parts 30
Berbagai cerita, berbagai rasa, menyatu dalam setiap lembar halaman. Kisahku, kisahmu, kisah kita. Hidup, mati, bertemu, berpisah. Sedih, senang, kehilangan, kebahagiaan. Inspirasi cerita yang menyatu dalam karya.
 Lantai 07 di Apartemen by Duratunaja
Duratunaja
  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 1
Mereka mengira tempat itu adalah awal dari segalanya-ruang sederhana yang perlahan menumbuhkan tawa, cerita, dan keakraban yang tak tergantikan. Setiap sudutnya menyimpan kenangan, seolah menjadi saksi bisu persahabatan yang semakin erat. Namun, tak ada yang menyangka... tempat yang sama justru menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap. Rahasia yang perlahan terungkap, janji yang pernah terucap, dan kehadiran tak kasat mata yang menuntut balasan. Di sanalah semuanya berubah. Tempat yang dulu menjadi jalan menuju keakraban... kini menjadi awal dari akhir segala kehidupan.
Kecil-kecil Didikan Dilan [END] by Anindita_KhrnNsw
Anindita_KhrnNsw
  • WpView
    Reads 562
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 26
"Bandung kayaknya sial pisan, ya? Soalnya ada kamu di Bandung." -Juwita Anindiya Ayu Juwita, bertemu dengan Sagara. Sebuah SMA di bandung yang mempertemukan mereka berdua dengan cara yang tidak biasa. Sagara dicap mirip sekali dengan Dilan. Juwita tetap yakin pada pendapatnya tentang Sagara bahwa dia dengan Dilan sungguh jauh berbeda, apalagi sifat Sagara yang dianggap aneh oleh Juwita.Tapi, Sagara membuktikan bahwa cara dan orang lain untuk mendekati dan mewarnai hari Juwita sangat berbeda. "Aku ramal, kita akan bertemu di Kantin" -Sagara Satria Putra "Semua orang saat jam istirahat memang akan pergi ke Kantin!" -Juwita Anindiya Ayu
Ganjil (Kumpulan Cerpen Horor) by mikesehyuna
mikesehyuna
  • WpView
    Reads 416
  • WpVote
    Votes 181
  • WpPart
    Parts 29
Jangan Plagiat! Jangan Copy-Paste! Sebab maut tak pernah datang dalam jumlah genap Satu adalah kesendirian yang menyesakkan. Tiga adalah kehadiran yang tak diinginkan. Dan tiga puluh menjadi pintu masuk menuju kegelapan yang tak berujung. GANJIL mengumpulkan ketakutan yang terserak di sela-sela rutinitas. Melalui 30 cerita yang merobek ketenangan, buku ini membuktikan horor yang paling mengerikan tidak datang dari kejauhan, melainkan dari piring tambahan di meja makanmu atau mesin tik di kamar sebelah yang seharusnya kosong. Jangan percaya pada angka-angkamu. Karena dalam kehidupan ini, sesuatu yang ganjil akan selalu mencari cara untuk mengambil kematian yang tak pernah terduga. MIKESEHYUNA || 2026
Dia, si Gadis Gerbong Kereta  by hosnia99
hosnia99
  • WpView
    Reads 682
  • WpVote
    Votes 215
  • WpPart
    Parts 31
Rasa itu tak pernah benar-benar usang, meski kini semuanya terasa asing. Satu tahun sudah Vidia menyulam tanya, meniadakan segala rasa ingin tahu yang kian hari kian menyiksa. Kepergian Ken yang tanpa penjelasan, menorehkan luka di hatinya. Izinnya hanya sebulan, saat ia akan bertandang ke Indonesia bagian timur. Namun nyatanya, pria yang bertugas sebagai relawan itu, hingga kini tak kunjung kembali. Gerbong Kereta melaju pelan, menggoyang-goyangkan tubuh Vidia yang telah lama berdiam diri oleh lelahnya tabir ketidaktahuan. "Mengapa sampai detik ini Ken tak kunjung kembali?" Pertanyaan itu senantiasa terngiang-ngiang di telinga. Vidia bersandar pada sandaran kursi, memejamkan Netra Hazelnya walau ia tak pernah benar-benar terlelap. Perjalanan jauh yang dilaluinya, membuat tubuh Vidia menagih istirahat. Namun tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat beberapa orang sedang beradu mulut. "Heeiii Bicara yang Sopan!" teriak Alan, pria berambut klimis. Bibirnya bergerak-gerak pelan usai meneriaki salah satu penumpang. Netra Almondnya bergerak kesana-kemari, mendapat tatapan intimidasi dari pria bertubuh gempal. Vidia yang berada tak jauh dari penumpang yang terlibat adu mulut, karena berebut tempat duduk. Hanya terdiam, menyaksikan adegan selanjutnya. "BUGG." Sebuah bogeman mendarat di pipi kiri Alan, hingga membuat tubuh pria itu terjengkang ke belakang. "Argh..." Alan mengerang kesakitan, darah segar muncrat dari sudut bibirnya. "BANGUN!!!" Teriak Toni, menarik Krah baju belakang Alan. Tanpa ampun, ia menarik tubuh jangkung itu, dan melempar ke lantai kereta. Semua penumpang tampak panik, namun tak berani melerai, atau sekedar memberi pertolongan pada pria yang kini wajahnya di babat habis oleh Toni. "Tindakanmu sudah aku rekam, sekali aku tekan tombol kirim. Polisi akan meringkusmu!" ucap Vidia, dengan suara tenang, penuh penekanan. "BRENGSEK!!!" umpat Toni, dan berlalu pergi.
Kursi Kosong di Sebelahmu by Annnda
Annnda
  • WpView
    Reads 429
  • WpVote
    Votes 166
  • WpPart
    Parts 25
Ayla selalu percaya bahwa jika ia cukup sabar, suatu hari Raka memilihnya ia terbiasa menjadi tempat Raka kembali ketika kesepian, meskipun hatinya sering terluka karena tidak pernah benar- benar di pilih. Namun semakin lama menunggu Ayla mulai sadar bahwa orang yang tidak pernah memilih, sebaik apapun seseorang bertahan. - Ananda Laila G -
The Day We Had to Say Goodbye by fatt_ra11
fatt_ra11
  • WpView
    Reads 248
  • WpVote
    Votes 129
  • WpPart
    Parts 26
Tidak semua cinta berakhir dengan kebahagiaan. Ada yang harus berhenti... meski hati masih ingin bertahan. Di sebuah hari yang tampak biasa, dua hati dipaksa memilih jalan yang berbeda. Bukan karena mereka berhenti saling mencintai, tapi karena keadaan yang tak pernah mereka rencanakan. Kenangan yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi luka yang diam-diam mereka simpan. Mereka pernah tertawa bersama, bermimpi tentang masa depan yang sama, dan berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Tapi hidup punya caranya sendiri untuk menguji-dan hari itu datang, hari di mana mereka harus mengucapkan selamat tinggal. Apakah cinta benar-benar berakhir saat perpisahan terjadi? Atau justru tetap hidup... dalam diam dan kenangan?
Lelaki ke Tujuh by irjicantik_
irjicantik_
  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
Tsaabina Qaireen Azahra-perempuan yang tumbuh dalam lingkungan penuh nilai dan kehormatan. Dibesarkan oleh seorang kiyai terpandang, hidupnya nyaris tampak sempurna di mata banyak orang. Namun tidak ada yang benar-benar tahu, bahwa ia telah menutup rapat sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan. Satu per satu laki-laki datang, membawa niat baik dan harapan untuk masa depan. Enam di antaranya telah ia tolak, tanpa penjelasan yang pernah benar-benar utuh. Hingga laki-laki ketujuh itu datang. Dengan cara yang berbeda. Dengan kesabaran yang tidak biasa. Dan untuk pertama kalinya, Tsaabina hampir goyah. Namun pada akhirnya, ia tetap memilih hal yang sama- menolak. Bukan karena tak ingin. Tapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang tak pernah benar-benar kembali.
Dear. Alana by Rooseverin
Rooseverin
  • WpView
    Reads 1,581
  • WpVote
    Votes 333
  • WpPart
    Parts 28
Di sekolah, Alana adalah sosok yang mengerikan. Ia merundung siapa pun yang terlihat menonjol, sebuah perilaku kejam yang sebenarnya adalah topeng untuk menutupi jiwanya yang terjajah. Di balik punggungnya, ada Papi dan Maminya yang otoriter yang menuntut dominasi mutlak. Seorang Papi yang memikul beban berat untuk memastikan putri tunggalnya mendapatkan "hak" kekuasaan keluarga. Maminya yang lembut seringkali mencoba memberi arahan, namun suaranya selalu tenggelam oleh ketegasan yang membungkam. Namun, masa lalu yang kelam itu kini mengejarnya. Alana terjepit dalam rahasia yang bisa menghancurkan reputasi keluarga besarnya yang diagungkan: ia hamil. Malam itu, di sebuah klub malam yang bising, takdir mempertemukannya dengan Leon. Leon adalah seorang yatim piatu perantau yang baru saja kehilangan pekerjaannya karena berselisih dengan orang berpengaruh. Di titik terendah hidupnya, saat ia tidak tahu harus makan apa esok hari, Alana mencegatnya di tengah kegelapan. Dengan suara bergetar dan napas memburu, Alana mengucapkan kata yang mengubah hidup mereka berdua: "Aku H-Hamil." Alana menawarkan kesepakatan gila: Leon harus berpura-pura menjadi ayah dari bayi di kandungannya di hadapan keluarga besarnya yang haus kuasa. Bagi Leon, ini adalah pelampung sekaligus jerat leher. Ia butuh uang untuk bertahan hidup di kota yang kejam ini, namun ia tahu siapa keluarga Alana. Leon menatap mata Alana yang penuh ketakutan, lalu mengajukan satu syarat mutlak sebelum kesepakatan terjalin. Kini, keduanya berdiri di depan pintu gerbang rumah besar yang tampak seperti penjara berlapis emas. Sebuah sandiwara besar dimulai, di mana nyawa menjadi taruhannya. Semuanya dimulai saat Papinya memberikan mereka hidup di atap yang sama. Bagaimana bisa mereka satu rumah?