hosnia99
- Reads 257
- Votes 68
- Parts 13
Rasa itu tak pernah benar-benar usang, meski kini semuanya terasa asing. Satu tahun sudah Vidia menyulam tanya, meniadakan segala rasa ingin tahu yang kian hari kian menyiksa. Kepergian Ken yang tanpa penjelasan, menorehkan luka di hatinya. Izinnya hanya sebulan, saat ia akan bertandang ke Indonesia bagian timur. Namun nyatanya, pria yang bertugas sebagai relawan itu, hingga kini tak kunjung kembali.
Gerbong Kereta melaju pelan, menggoyang-goyangkan tubuh Vidia yang telah lama berdiam diri oleh lelahnya tabir ketidaktahuan. "Mengapa sampai detik ini Ken tak kunjung kembali?"
Pertanyaan itu senantiasa terngiang-ngiang di telinga.
Vidia bersandar pada sandaran kursi, memejamkan Netra Hazelnya walau ia tak pernah benar-benar terlelap. Perjalanan jauh yang dilaluinya, membuat tubuh Vidia menagih istirahat.
Namun tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat beberapa orang sedang beradu mulut.
"Heeiii Bicara yang Sopan!" teriak Alan, pria berambut klimis. Bibirnya bergerak-gerak pelan usai meneriaki salah satu penumpang. Netra Almondnya bergerak kesana-kemari, mendapat tatapan intimidasi dari pria bertubuh gempal.
Vidia yang berada tak jauh dari penumpang yang terlibat adu mulut, karena berebut tempat duduk. Hanya terdiam, menyaksikan adegan selanjutnya.
"BUGG."
Sebuah bogeman mendarat di pipi kiri Alan, hingga membuat tubuh pria itu terjengkang ke belakang.
"Argh..." Alan mengerang kesakitan, darah segar muncrat dari sudut bibirnya.
"BANGUN!!!" Teriak Toni, menarik Krah baju belakang Alan. Tanpa ampun, ia menarik tubuh jangkung itu, dan melempar ke lantai kereta. Semua penumpang tampak panik, namun tak berani melerai, atau sekedar memberi pertolongan pada pria yang kini wajahnya di babat habis oleh Toni.
"Tindakanmu sudah aku rekam, sekali aku tekan tombol kirim. Polisi akan meringkusmu!" ucap Vidia, dengan suara tenang, penuh penekanan.
"BRENGSEK!!!" umpat Toni, dan berlalu pergi.