frodo69
- Reads 531
- Votes 188
- Parts 44
Adriano selalu ada di kelas, tapi jarang benar-benar dianggap ada. Ia duduk di sudut dengan sweter kebesaran, kacamata tebal, dan penampilan yang terlalu biasa sampai orang-orang terbiasa untuk tidak melihatnya. Mereka memanggilnya culun, dan Adriano tidak pernah membantah. Ia hanya diam.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah matanya selalu mencari Arlan.
Diam-diam, tanpa pernah berani mengaku, Adriano mencintai Arlan dengan cara yang sunyi. Ia memperhatikan segalanya, dari hal besar sampai hal kecil yang bahkan tidak disadari orang lain. Semua itu ia simpan sendiri, seolah cukup hanya dengan melihat.
Padahal Arlan hampir tidak pernah benar-benar melihatnya.
Bahkan saat Adriano diperlakukan kasar, didorong, diejek, atau direndahkan di depan banyak orang, ia tetap diam. Ia tidak melawan, tidak membalas, hanya menunduk dan menerima. Dan yang paling menyakitkan semua itu sering terjadi di depan Arlan, yang hanya diam, tidak membela, seolah Adriano memang tidak penting.
Namun Adriano tidak pernah membenci.
Ia tetap diam, tetap mencintai, dan tetap menyimpan semuanya sendiri.
Karena tidak ada yang tahu, di balik diamnya, Adriano melihat segalanya, mengingat segalanya, dan menyimpan terlalu banyak hal yang tidak pernah ia tunjukkan.
Dan orang yang terbiasa diam seperti Adriano... biasanya tidak selamanya akan tetap seperti itu.