Teen Fiction - Campus Life
4 stories
maybe tomorrow we'll spill more dough and sing louder  by artsahi
artsahi
  • WpView
    Reads 573,709
  • WpVote
    Votes 79,073
  • WpPart
    Parts 53
Miko dan Dira selama ini hanyalah teman satu angkatan dan satu jurusan, yang juga kebetulan menempati unit apartmen di lantai yang sama. Interaksi mereka pun hanya sekadar saling menyapa saat tidak sengaja bertemu saat menunggu lift, atau berada di kelompok mata kuliah yang sama. Tidak pernah lebih dari itu. Tapi, bagaimana jika suatu hari bocah laki-laki berumur 4 tahun mengaku sebagai anak mereka dari masa depan?
Fase dalam Lingkaran [Selesai] by gemamembiru
gemamembiru
  • WpView
    Reads 46,391
  • WpVote
    Votes 9,108
  • WpPart
    Parts 31
[Trigger / content warning: domestic violence, self injury, negative vibes] Sejak di-PHK, Ayah berubah 180 derajat. Ladin tidak lagi melihat sosok wibawa pada ayahnya karena yang dilakukan Ayah sekarang hanya marah-marah, judi, dan mabuk. Ibu akhirnya harus menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga karena Ayah enggan kembali bekerja. Ladin bukan termasuk orang pendiam, tapi sejak dulu ia tidak pernah menyuarakan emosinya. Oleh karena itu, melukai tubuh kerap kali dijadikannya jalan pintas untuk menuntaskan emosi. Tidak ada ruang untuk Ladin dapat bercerita. Dunia terlampau sibuk hingga tak berkenan mengurusi perempuan kecil yang bukan siapa-siapa. ----- "Katanya, beberapa mahasiswa psikologi itu lagi berobat jalan?" ----- Cerita ini adalah fiktif. Background cover credit to owner (I am sorry because I can't find the artist)
Sabtu Malam Minggu by babybluejeanss
babybluejeanss
  • WpView
    Reads 5,869
  • WpVote
    Votes 834
  • WpPart
    Parts 24
Berapa kali Arwen harus bilang? Mereka nggak pacaran! Hanya karena Arwin-Si Kapten Basket, punya nama mirip dengannya dan mengerjakan proyek Sejarah bersama, satu sekolahan berpikir cowok tersebut punya hubungan istimewa dengan Arwen. Padahal, bagi Arwen pertemuan dengan cowok itu adalah salah satu kesialan terbesar sepanjang kehidupan remajanya. Namun, demi menyelamatkan nasib ekskul majalahnya, Arwen dipaksa berhadapan dengan Arwin sekali lagi. Arwin cuma remaja kikuk saat orang-orang mulai bergosip tentang hubungannya dengan Arwen. Meski cewek itu bertindak sesuka hatinya, dia jelas teman yang menyenangkan. Namun, semua berubah saat hubungan mereka merenggang setelah proyek Sejarah berakhir. Tapi kenapa? Saat Sabtu Malam Minggu kembali memberi mereka satu kesempatan untuk menyelesaikan urusannya, mampukah mereka bicara dan menghadapi perasaan masing-masing?
Magnet [Selesai] by gemamembiru
gemamembiru
  • WpView
    Reads 82,695
  • WpVote
    Votes 14,529
  • WpPart
    Parts 38
[Trigger / content warning: self injury, toxic family, negative vibes] Ara tidak pernah menjadikan 'mahasiswa berprestasi' sebagai tujuan utamanya di dunia perkuliahan. Cukup dengan IPK yang memuaskan agar dapat membuktikan pada mamanya bahwa ia mampu berdiri di pelarian hidupnya. Tapi nyatanya, memiliki IPK nyaris sempurna tidak cukup untuk pengalihan pikirannya. Ia turut menyibukkan diri sampai titik di mana predikat mahasiswa berprestasi berhasil digapainya. Sejak menjadi mahasiswa baru, bergabung sebagai senator mahasiswa tingkat fakultas sudah menjadi pilihan Aksa. Hal itu yang membawanya memegang jabatan ketua senat di tahun ketiganya menjabat sebagai senator mahasiswa. Prinsip yang dipegangnya: senat dulu baru kuliah. Masuk jurusan psikologi sudah jauh di luar keahliannya, oleh karena itu organisasi harus menjadi hal yang patut dibanggakan dari Aksa. Semarang atau pun Bandung hanya perantara untuk kisah mereka. --- Cerita ini adalah fiktif. Ilusstration by Anna Lewis.