bluemoonandtheclouds's Reading List
3 stories
Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama (TAMAT REPUBLISH) by bluemoonandtheclouds
bluemoonandtheclouds
  • WpView
    Reads 255
  • WpVote
    Votes 89
  • WpPart
    Parts 20
Tujuh belas tahun Karina mengarungi samudera. Kehilangan orang tua menjadi badai yang melanda. Karina ingin menjadi seperti Kak Ara, bak nakhoda tangguh yang memimpin kapal. Di sisi lain, ada Pak Orion yang selalu membantu; kebaikannya menjadi karang besar di arus yang beriak karam. Siswi x Psikiater x Guru Karina x Ara x Orion x Libra Cerita penuh psikologi dan metafora puitis tentang kehilangan dan cinta platonis. Ceritanya aku publish ulang tiap minggu, selasa, kamis jam 7 malam karena revisi, mohon koreksinya di komentar, terimaaci yang mau mampir.
Dukung Aku untuk Tumbuh by bluemoonandtheclouds
bluemoonandtheclouds
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 3
Tiga saudara memendam duka. Rapuh hidup kehilangan ayah. Pura-pura normal untuk tetap tumbuh. Sayu Putri, si sulung residen psikiatri yang tetap tangguh dan suka marah. Suara Ayu, si anak tengah pengarah suara yang kian mengalah. Bagas Putra, si bungsu agen asuransi yang selalu tertawa. "Ibu...." Suar tersedu-sedu menatap ibunya. "Aku tahu aku cuma anak tengah, tapi bukan berarti aku harus selalu mengalah... Saat aku kecil, ayah selalu membanggakan si sulung sedangkan ibu selalu melindungi si bungsu." "Aku diam bukan berarti aku ingin diperlakukan seperti batu. Aku juga seorang anak, Ibu." Dua puluh tujuh tahun Suara Ayu mengembara hidup di dunia. Tak pernah sekali pun Suar meminta untuk dirinya. Hadir seorang Cahya yang tak seterang namanya. Terlahir dari sepasang merpati tanpa ikatan, dua puluh tujuh tahun mengutuk orang tua yang menelantarkan. Membuat Suar sadar dirinya harus meminta. 'Aku benci melihat diriku marah. Namun, aku juga lelah melihat diriku mengalah. Aku tak ingin terlihat lemah. Bisakah kau menyukaiku? Puji aku walau itu dusta. Pujalah diriku. Dukung aku untuk tumbuh.' Tulis Suar di kertas lalu dirobek dan Cahya membacanya.
Remang Bulan di Angkasa (TAMAT REPUBLISH) by bluemoonandtheclouds
bluemoonandtheclouds
  • WpView
    Reads 741
  • WpVote
    Votes 318
  • WpPart
    Parts 16
Sembilan belas tahun meniti luka, terasa seperti digantung antara remaja dan dewasa. Bulan membenci hidupnya dengan segenap raganya. Terbiasa mencuri dan menyadap untuk bertaruh hidup. Kehilangan sosok ayah di usia muda. Takdirnya melengkung ketika bersingungan dengan Angkasa. Kepala Cabang berusia tiga puluh sembilan yang kehilangan anak. Tak bisa membenci karena raganya sudah terasa mati. Bulan menyeluk saku jaket, menyamai langkah. "Jika saya terlahir kembali... saya harap saya menjadi batu. Setidaknya batu tak merasa jika ditendang atau dihancurkan." Angkasa kian menyeluk saku menghangatkan tangan. "Jadi seperti pohon saja. Terus tumbuh, akarmu kuat... Saya dulu juga tak punya cita-cita. Hanya giat dan berdoa pada Tuhan. Siapa tahu saya jadi kepala cabang." "Kamu harus dengar sudut pandang istri berselingkuh sepertiku agar mengerti. Sebuah hubungan terjaga bukan hanya saling percaya, melainkan karena terbuka." Dara terisak di ponsel Angkasa yang disadap Bulan. "Orang baik pintar memelintirkan kebenaran. Kau adalah orang munafik yang selalu memendam perasaan pada orang yang kau benci. Kau tak perlu ambisi sepertiku untuk mencapai puncak. Pada akhirnya kau akan merebut segalanya dengan kebaikanmu itu. Itu sama saja kau tamak!" teriak Bara pada Angkasa. Bulan hanyalah anak magang yang terlibat di intrik perusahaan magangnya. Akibat pamannya berselingkuh dengan istri kepala cabangnya. "Buat saja kepala cabangmu mengantarmu pulang. Nanti paman suruh orang foto dari belakang. Hanya rumor kepala cabang mengantar anak magang. Itu saja, tak lebih," suruh Bara pada Bulan untuk menjebak Angkasa. Ceritanya aku publish ulang tiap minggu, selasa, kamis jam 7 malam karena revisi, mohon koreksinya di kolom komentar, terimaaci yang mau mampir.