hy_Beatrice
- Reads 1,390
- Votes 456
- Parts 18
Hanya ada satu lampu pijar kekuningan yang berayun pelan di tengah ruangan bawah tanah yang pengap itu, menyorot sebuah kursi kayu yang menjadi pusat penderitaan. Di atasnya, Giulietta duduk dengan tangan dan kaki yang terikat erat oleh tambang kasar. Mulutnya dibungkam paksa oleh sehelai kain hitam. Air mata tidak berhenti mengalir dari pelupuk mata hazelnya, bercampur dengan aliran darah segar yang menetes dari pelipis akibat pukulan brutal.
Di hadapannya, berdiri seorang pria yang sangat ia kenal. Pria dengan siluet dan aura mengancam yang sama persis dengan sosok yang malam itu mencari buronannya di Calascibetta. Pria itu memainkan sebuah pistol logam di tangannya dengan santai, larasnya yang dingin terarah tepat ke kepala Giulietta.
"Waktunya hampir habis," ucap pria itu memecah keheningan, suaranya menggema penuh racun. Ia melangkah pelan, memutari kursi Giulietta layaknya pemangsa. "Aku penasaran... apakah mereka akan datang menerjang neraka demi menolongmu, atau membiarkan dirimu mati di sini."
Pria itu berhenti tepat di depan Giulietta, menunduk untuk menatap mata gadis itu yang memancarkan ketakutan sekaligus kebencian yang menyala.
"Seorang gadis kecil yang di kabarkan mati dalam kebakaran puluh tahun yang lalu... ternyata selama ini masih hidup," kekehnya sinis, penuh kemenangan. "Corsini, Vescari, dan Cavazza. Tiga pilar kesombongan. Mungkin dulu aku memang gagal membuat kalian pecah dari dalam."
Pria itu menempelkan ujung laras senjatanya ke dahi Giulietta, membuat gadis itu memejamkan mata erat-erat. Jantung Giulietta berdegup gila saat merasakan dinginnya logam tersebut mencium kulitnya.
"Tetapi sepertinya," bisik pria itu di dekat telinga Giulietta, menarik pelatuk perlahan. "Kali ini aku tidak akan gagal."
Sebuah letusan memekakkan telinga menggema ke seluruh penjuru ruangan bawah tanah, menelan rintihan tertahan Giulietta dan merenggut segalanya menjadi kegelapan.