jurisnoir
- Reads 1,218
- Votes 196
- Parts 21
Di Universitas Indonesia Raya, hukum bukan hanya dipelajari-ia hidup, bernapas, dan terkadang... terasa terlalu manusiawi.
Baskara Alaric Wiratama adalah definisi sempurna dari aturan. Tegas, dingin, dan tak tergoyahkan. Baginya, dunia hanya terdiri dari benar dan salah, tanpa ruang untuk abu-abu. Sebagai calon Jaksa, ia percaya satu hal: hukum harus ditegakkan, apa pun yang terjadi.
Lalu hadir Aruna Rinjani Lexa.
Gadis dengan senyum cerah dan cara berpikir yang tak bisa dimasukkan ke dalam pasal mana pun. Baginya, hukum bukan sekadar aturan-melainkan alat untuk memperjuangkan keadilan yang sering kali tak tertulis. Sebagai calon Pengacara, ia terbiasa melawan sistem, bukan tunduk padanya.
Dua dunia yang bertolak belakang.
Dua prinsip yang tak pernah sejalan.
Seharusnya mereka hanya bertemu sebagai lawan.
Namun, satu insiden kecil di hari ospek-sebuah lip balm pink yang jatuh dan sebuah senyuman yang terlalu berani-menjadi awal dari kekacauan yang tak tercantum dalam undang-undang mana pun.
Karena ternyata...
yang paling sulit diadili bukanlah perkara hukum,
melainkan perasaan sendiri.
Di antara pasal, argumen, dan ambisi,
sebuah "sidang" lain diam-diam dimulai
sidang tanpa hakim, tanpa palu, tanpa putusan pasti.
Klausul Rasa
Ketika cinta menjadi satu-satunya pasal yang tak bisa digugat... bahkan oleh mereka yang paling mengerti hukum.