Kucing PJ
3 stories
Sayonara, Male Lead (Tamat) by GaluhCahya8
GaluhCahya8
  • WpView
    Reads 17,042
  • WpVote
    Votes 2,342
  • WpPart
    Parts 35
Apa tidak cukup menjadikanku sebagai si miskin menyedihkan? Kenapa setelah mati karena kerusakan organ pencernaan dan stres berlebih justru aku harus dikirim ke sebuah dunia novel. Kabar buruknya: aku bahkan tidak tahu judul, isi cerita, dan karakter dari novel tersebut! Bagaimana bisa segalanya berjalan semakin buruk, buruk, dan buruk setelah kehidupan pertama? Apa aku tidak boleh jadi manusia makmur tanpa harus ngos-ngosan memikirkan isi perut dan tagihan? Sepertinya semesta belum puas dengan keadaanku. Seekor kucing putih yang amat gembul muncul di hadapanku. Satu namanya. Dia sebelas dua belas dengan orang mesum pecinta hiburan plus plus. Setiap hari memberiku semangat dan peringatan agar aku, adik female lead, memastikan kakakku yang cantik itu tidak berakhir di tangan male lead mana pun. Kok bisa, sih, segetunya menyuruhku berperang di zona dewasa? Aku sudah kenyang makan kehidupan orang dewasa: kerja, tidur tak nyenyak, dan bayar tagihan! Kenapa harus disuruh mengurus seseorang yang seperti magnet bagi pria berbahaya? Enak saja. Say bye saja, sih, menurutku! Mohon maaf. Aku terlalu pesimis untuk disuruh berprasangka dan berpikir baik!
PROTAGONIST'S LOVEMOMETER (TAMAT) by GaluhCahya8
GaluhCahya8
  • WpView
    Reads 196,307
  • WpVote
    Votes 32,376
  • WpPart
    Parts 36
Salah satu petugas isekai memberiku misi mengumpulkan kuota cinta dari Male Lead. Berhubung pilihan hanya ada dua, hidup atau mati, maka aku pun menerima tantangan. Jangankan menaklukkan Male Lead, Villain pun akan kuterjang asal diberi kesempatan hidup walau sebagai tokoh sampingan sekalipun. Mudah, 'kan? GAMPANG! Tidak terhitung berapa kali aku berusaha menjerat Male Lead dalam perangkap cinta serta puluhan rayuan maut, tetapi kuota cinta merangkak seperti siput! Hingga suatu hari kusadari bahwa kuota cinta yang petugas isekai inginkan adalah cinta bergemuruh penuh gelora alias, cinta murni ala teratai putih sama sekali tidak berarti. I'm doomed! *** So, aku ingin tahu letak kesalahanku saat melakukan manuver? Bukankah aku hanya perlu mengumpulkan kuota cinta saja? Lalu, mengapa Male Lead kini terlihat jauh lebih menakutkan daripada Villain? "Siapa dia?" Male Lead menatap sengit kepada pasangan kencanku. "Bukankah dulu kamu bilang suka padaku?" Buhuuu tolong biarkan aku hidup. Ampun!
BUKAN BEGINI (Tamat) by GaluhCahya8
GaluhCahya8
  • WpView
    Reads 40,782
  • WpVote
    Votes 6,097
  • WpPart
    Parts 24
Aku telah melakukan banyak perjalanan dari satu cerita ke cerita lainnya sebagai antagonis. Misiku hanya satu, memastikan tokoh utama perempuan menderita sesuai dengan naskah asli. Satu, kucing putih yang bisa bicara sekaligus penanggung jawab isekai milikku, memberiku banyak bantuan. Mulai dari dunia vampir, petarung sinting, sampai novel picisan. Segalanya kuselesaikan dengan tuntas, sesuai perjanjian dengan Satu. Seharusnya bila tugas terakhirku, misi nomor seratus, selesai maka aku akan dijanjikan boleh hidup sebagai orang berkecukupan, superberuntung, dan jauh dari kesialan apa pun. Seharusnya! SEHARUSNYA! "Mohon maaf, kuota bagi penerima paket untung sudah habis," Satu menginformasikan. Tentu saja aku marah. Rasanya seperti kena scam mentah-mentah. Seratus misi. Bermacam kegiatan sinting. Dedikasi yang tidak terbayarkan. Aku menuntut ganti rugi, tapi Satu berkata bahwa kepala isekai tidak menerima keluhan. "Ya sudah, hidup di sini saja." Gampang sekali Satu bicara. Hidup di sini. Di cerita keseratus. Di sebuah novel picisan CEO sinting. Aku bahkan berani taruhan bahwa penulis tidak melakukan riset sama sekali. Oh itu belum termasuk fakta bahwa aku, si pelaku kejahatan dalam cerita, akan mati di tangan tokoh utama pria karena telah merugikan kekasih impiannya. Aku, bukan orang lain. Bukan Satu si kucing gembul biang kerok. Aku! "Buhuuuu apa kamu nggak bisa mempertimbangkan diriku sebagai asisten rumah tangga?" Apa yang bisa kulakukan? Iya, tepat sekali. Hadapi racun dengan racun. Alias, kubuang harga diri dan lari mencari belas kasih dari Bos Antagonis, Mr. Villain, Big Boss. Inilah yang terbaik, 'kan? Benar, 'kan?