dnnylike
"Di rumah ini, aku adalah matahari. Aku harus bersinar agar mereka tidak kedinginan. Tapi, adakah yang peduli bahwa sinarku sendiri perlahan-lahan membakar jiwaku hingga kering?"
Arkananta Mahendra adalah definisi "Anak Emas". Di sekolah, ia adalah mesin jawaban yang dipuja teman-temannya. Di rumah, ia adalah piala berjalan bagi Ibunya. Ia memiliki segalanya: nilai sempurna, piala emas, dan seragam yang selalu licin disetrika. Namun, di balik itu semua, Arka sedang mengalami dehidrasi hebat bukan kekurangan air, melainkan haus akan kejujuran dan ruang untuk bernapas.
Arka hidup dalam naskah yang disusun oleh ambisi Ibunya yang keras dan ketidakhadiran Ayahnya yang dingin. Ia dipaksa berlari dalam maraton ekspektasi tanpa garis finish. Ketika ia mencoba mencari setetes air lewat minatnya sendiri, ia justru harus terjebak dalam labirin kebohongan dan pemalsuan naskah hidupnya.
Didampingi Saka, rival yang menjadi oase kejujurannya, dan Kania, embun pagi yang memberinya ketenangan, Arka berusaha bertahan di tengah badai keluarga yang mencekik. Namun, seberapa kuat seorang anak bisa bertahan sebelum sirkuitnya terbakar dan ia hancur di depan takhta yang ia bangun sendiri?.
Ini bukan sekadar cerita tentang prestasi. Ini adalah jeritan sunyi seorang anak yang hanya ingin dicintai sebagai manusia, bukan sebagai angka.