Ansaafh_
- Reads 518,680
- Votes 5,101
- Parts 45
"Yang nggak baca, semoga tiap mau tidur tiba-tiba inget cicilan yang belum lunas🤪"
Reygan tidak lagi menahan diri. Begitu pintu terkunci, ia menyambar pinggang Aluna dan menghempaskannya ke atas ranjang. Belum sempat Luna mengatur napas, tubuh besar Rey sudah mengukungnya, menindihnya dengan berat yang dominan dan menuntut.
"Rey, ini gila-"
"Aku memang sudah gila sejak tiga tahun lalu!" potong Rey kasar. Ia mencengkeram kedua tangan Luna, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan yang luar biasa kuat.
Rey merobek paksa kancing kemeja Luna hingga berhamburan di lantai. Ia langsung membenamkan wajahnya di dada Luna, menghisap dan menggigit kulit putih itu dengan agresif, seolah ingin memberikan tanda kepemilikan yang permanen.
"Aaahh! Rey... s-sakit... nngghh..." Luna melenguh, antara rasa perih dan gairah yang meledak seketika. Tubuhnya gemetar hebat saat merasakan tangan Rey yang kasar masuk ke dalam roknya, merombak habis pertahanannya tanpa permisi.
"Katakan siapa yang menyentuhmu sekarang, Luna?" geram Rey di depan wajahnya. Napas pria itu panas, matanya merah penuh obsesi. Ia tidak menunggu jawaban. Dengan satu sentakan yang kuat dan penuh tenaga, Rey memasuki Luna, menghancurkan sisa-sisa kewarasan wanita itu.
"Nnngggghhh! Rey!" Luna berteriak parau, matanya terbelalak saat rasa sesak sekaligus nikmat yang luar biasa menghujamnya.
Rey bergerak dengan tempo yang cepat dan brutal. Setiap tumbukan membuat ranjang berderit keras, beradu dengan suara napas mereka yang saling memburu. Luna tidak bisa berpikir lagi, ia hanya bisa mengikuti ritme liar Rey, kakinya melingkar erat di pinggang adik iparnya, menarik pria itu semakin dalam.
"Lagi... Rey... ahh... lebih dalam..." isak Luna, menyerah sepenuhnya pada dosa yang paling nyata di hidupnya. Kamar itu berubah menjadi saksi bisu bagaimana rasa dingin Rey selama bertahun-tahun mencair menjadi gairah yang tidak tertahankan.