dharmasukawiyana
- Reads 123
- Votes 19
- Parts 21
Dia menatapku seperti orang asing.
Padahal, aku mengenalnya lebih dari siapa pun.
Aneh.
Harusnya aku biasa saja.
Harusnya aku bisa menjelaskan semuanya.
Tapi aku tidak bisa.
Aku hanya bisa duduk di depannya, berpura-pura bahwa kami tidak pernah menjadi apa-apa.
Seolah-olah aku tidak pernah ada di hidupnya.
Seolah-olah dia tidak pernah menjadi segalanya bagiku.
Dan yang paling menyakitkan,
dia tetap tersenyum padaku.
Seperti kita baru saja bertemu.
Seperti semuanya... belum pernah terjadi.