Roschveltvz
- Reads 4,330
- Votes 633
- Parts 9
Bagi Adilla Arunika Maheswari, jatuh cinta pada Trian Atharvendra Mahesa adalah sebuah kesalahan paling indah sekaligus paling melelahkan.
Semua dimulai dari secangkir kopi di sudut kafe Bandung, ketika cowok Arsitektur yang dingin dan tak tersentuh itu menyelamatkan gengsi Adilla tanpa sepatah kata pun. Sejak hari itu, Adilla mendedikasikan tahun-tahun kuliahnya untuk satu misi: meruntuhkan tembok es di sekitar Trian dengan segala keceriaan dan kedegilannya. Dia percaya, sekeras apa pun batu, akan terkikis juga oleh tetesan air yang konsisten.
Namun, Adilla lupa satu hal. Trian bukan sekadar batu. Dia adalah arsitek yang tahu persis bagaimana cara membangun benteng pertahanan yang mustahil ditembus.
Hingga pada satu titik, garis batas itu benar-benar mengabur. Sebuah rahasia, sebuah kepasrahan, dan ego yang terluka memaksa Adilla mengambil keputusan paling radikal dalam hidupnya: berhenti. Adilla menghilang tepat saat Trian mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Ketika tawa berisik itu senyap, Trian mendapati cetak biru hidupnya yang sempurna mendadak berantakan. Namun, apakah penyesalan Trian mampu membawa Adilla kembali? Ataukah kali ini, benteng yang Trian bangun justru mengunci dirinya sendiri dalam penyesalan seumur hidup?
Sebab di antara mengejar dan dilepaskan, ada hati yang terlanjur patah sebelum sempat memiliki.
"Aku bisa bertahan menghadapi penolakanmu, tapi aku tidak bisa bertahan saat menyadari bahwa eksistensiku tak pernah ada di matamu." -Adilla Arunika Maheswari.