assayyidahkha
🕊️ 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶
𝘔𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯,
𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.
- 𝘈𝘭𝘪𝘢 𝘢𝘳-𝘙𝘶𝘮𝘢𝘺𝘴𝘩𝘢
Di istana ini, tawa sudah lama mati.
Yang tersisa hanya gema langkah dan retakan di dinding.
Alia hanya ingin pulang.
Tapi "rumah" sudah tidak punya cahaya lagi.
Rumah ini terlalu besar untuk disebut rumah. Dunia menyebutnya istana, dengan taman rapi, gerbang tinggi, lampu kristal yang menyilaukan, dan nama yang disebut dengan hormat. Namun di dalamnya, tidak ada satu pun sudut yang terasa seperti tempat pulang.
Alia lima belas tahun, seharusnya ia sibuk dengan sekolah dan tawa bersama teman-temannya. Tapi sejak Ayah lebih sering di luar kota, rumah itu diserahkan pada amarah Mama. Pada suara yang meninggi, pada mata yang menakutkan, dan pada hari-hari yang habis untuk luka yang membekas.
Dan Alia tumbuh lebih cepat. Ia belajar diam sebelum bicara. Belajar menjadi dinding untuk si kembar, Alzam dan Kazzam yang juga tumbuh menjadi anak yang garang. Belajar menjadi rumah bagi si kecil Naifa, yang masih bertanya mengapa rumah mereka tidak pernah terasa menyenangkan.
Alia tidak tahu sampai kapan harus menjadi dewasa di rumahnya sendiri. Yang ia tahu, selama ia di sana, ia akan menjaga cahayanya tetap menyala. Agar mereka ingat, kegelapan bukan satu-satunya penghuni istana ini.
Dan semoga, suatu saat nanti ia bisa membawa mereka pergi. Ke tempat yang tidak perlu setinggi istana untuk disebut rumah. Yang cukup ada rasa aman, tawa, dan cahaya.
⚠️Angst, Penuh Emosional⚠️
❗JANGAN JADI PEMBACA GELAP❗
‼️DILARANG KERAS PLAGIAT‼️