ciescies's Reading List
2 stories
GARIS BATAS ANTARA KITA  by sarahnmbla
sarahnmbla
  • WpView
    Reads 156
  • WpVote
    Votes 77
  • WpPart
    Parts 34
PROLOG: Pecahan Kaca di Balik Seragam Suara detak jam dinding di ruang OSIS terasa seperti bom waktu bagi Mentari. Di tangannya, sebuah map merah berisi catatan pelanggaran siswa paling bermasalah di SMA Galaksi: Galaksi Aldebaran.Bagi dunia, Mentari adalah kesempurnaan. Rok yang selalu di bawah lutut, nilai matematika yang tak pernah menyentuh angka sembilan, dan tutur kata yang santun. Namun bagi Mentari, keteraturan adalah penjara yang ia ciptakan sendiri agar ayahnya tidak kecewa.Lalu ada Galaksi. Cowok yang hobi memarkirkan motor besarnya di depan gerbang sekolah hanya untuk menggoda guru piket. Cowok yang matanya selalu menyimpan badai, yang aroma tubuhnya adalah campuran antara wangi maskulin dan asap rokok tipis."Mentari," suara Pak kepsek memecah lamunannya. "Kalau Galaksi tidak ikut ujian susulan besok, saya tidak punya pilihan selain mengeluarkannya. Hanya kamu yang bisa membujuknya. Dekati dia, cari tahu kelemahannya, dan bawa dia ke meja ujian."Mentari tahu, melangkah menuju Galaksi sama saja dengan melangkah menuju jurang. Tapi ia tidak punya pilihan. Garis batas itu harus ia langgar.
NOTICED by sarahnmbla
sarahnmbla
  • WpView
    Reads 687
  • WpVote
    Votes 314
  • WpPart
    Parts 62
Dua dunia yang berbeda, satu frekuensi yang memaksa mereka untuk saling menyadari. "Bagi dunia, Arsakha Virendra adalah matahari yang menyilaukan. Sebagai leader grup idol papan atas, hidupnya adalah tentang sorot lampu panggung, teriakan jutaan penggemar, dan kesempurnaan yang dipaksakan. Namun di balik kemegahan itu, Arsakha merasa asing dan kesepian. Ia dicintai oleh semua orang, tapi tidak benar-benar "dilihat" oleh siapa pun. Di sisi lain, Hanasta Kirana hanyalah satu titik kecil di tengah kerumunan. Seorang mahasiswi desain grafis yang bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil. Baginya, Arsakha adalah pemberi warna saat dunianya terasa abu-abu. Hana tahu diri; ia hanyalah seorang penggemar yang hanya bisa menatap Arsakha dari balik layar ponsel atau papan iklan raksasa. Semuanya berubah setelah sebuah sesi fan meeting. Sebuah tatapan tulus dari Hana dan pesan rahasia yang tertulis di halaman album menjadi awal dari resonansi yang tak terduga. Takdir kemudian membawa Arsakha "melarikan diri" ke kafe tempat Hana bekerja. Di sana, di antara aroma kopi dan meja sudut nomor tujuh, Arsakha bukan lagi seorang superstar, dan Hana bukan lagi sekadar penggemar. Namun, mampukah sebuah perasaan bertahan ketika cahaya lampu sorot mulai mengejar mereka? Saat skandal pecah dan karier sang bintang dipertaruhkan, apakah Arsakha akan tetap "menyadari" keberadaan Hana, ataukah ia akan kembali menjadi matahari yang tak tergapai? Sebuah kisah tentang kejujuran, pelarian, dan bagaimana rasanya benar-benar diperhatikan