Umarfaruqiswanto
Pria selalu dituntut untuk berdiri paling akhir sebagai pemenang. Namun di hadapan cinta, kemenangan terbesar seorang pria justru adalah saat ia berani mengakui kekalahannya.
Dari kesombongan tanpa penyesalan, hingga air mata yang tumpah sebagai bayaran kepada langit. Buku ini membawa lu mengintip isi kepala pria yang paling rapuh-tempat di mana ego berteman dengan nafsu, luka masa lalu yang belum dimaafkan, dan ketakutan akan kutukan cinta yang tak mampu ditanggung.
Sebuah puisi dan prosa panjang tentang satu kesimpulan: pria selalu bisa diubah oleh cinta itu sendiri. 🦄