NorthOtto fanfic
3 stories
ECHOES OF THE DRUM   [ NORTHOTTO ]  by perf_chapr
perf_chapr
  • WpView
    Reads 592
  • WpVote
    Votes 85
  • WpPart
    Parts 25
Ada orang yang pulang ke rumah. Dan ada orang yang pulang ke satu tempat supaya tidak perlu memikirkan rumah. Bagi North, tempat itu adalah aula latihan. Di sana, suara drum lebih mudah dipahami daripada kata kata. Gerakan lebih jujur daripada perasaan. Dan selama ia terus bergerak, tidak ada yang perlu ia hadapi. Ia tidak banyak bicara. Tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu bagaimana caranya. Semua terasa cukup selama ia bisa tetap berada di dalam ritme yang sama. Sampai suatu hari, seseorang datang. Tidak terlalu hebat. Tidak terlalu rapi. Sering salah. Sering berisik. Dan... terlalu mudah tersenyum. Seseorang yang tidak mengerti kapan harus berhenti. Dan tidak pergi meskipun tidak diminta untuk tinggal. North tidak tahu bahwa kehadiran itu akan mengubah banyak hal. Pelan. Tanpa suara dan Tanpa peringatan. Seperti satu pukulan drum pertama yang terdengar sederhana, tapi cukup untuk memulai segalanya.
Harven Property || Northotto by dawzeunaff_
dawzeunaff_
  • WpView
    Reads 560
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 9
akash, si anak konglo yang baru belajar motor setelah 17 tahun dia hidup, malah ngga sengaja nabrak harven, mahasiswa semester 2 yang lagi buru buru banget berangkat ke kampus. Niat awal nya, harven mau marah, tapi ngeliat panik nya akash. harven si gengsi, nyari cara dengan perpanjangan urusan nya sama akash, biar bisa lebih deket sama dia. start: end:
Veil of Chill - Northotto fanfic by atarashiyuu
atarashiyuu
  • WpView
    Reads 251
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 5
Otto hidup dengan dua wajah. Siang hari, ia adalah cahaya. Langkahnya ringan, senyumnya utuh, suaranya menenangkan siapa pun yang mendengarnya. la memastikan dunia di sekitarnya tetap terang, menyembunyikan semua retak di balik mata yang selalu terlihat baik-baik saja. Malam hari, cahaya itu padam. la hanya seorang lelaki yang duduk dalam sunyi, menggenggam tangan dingin yang tak pernah membalas, merawat harapan yang perlahan habis. Air matanya hanya jatuh saat tak ada yang melihat. la menjalani keduanya sendirian. Terlalu mahir berpura-pura hingga lupa rasanya ditanya, "Kamu nggak apa-apa?" Lalu North datang. Tidak mendobrak, tidak menghakimi. la masuk pelan-pelan-dengan canda yang hangat, diam yang tidak menuntut, dan keberadaan yang berkata, "Kamu boleh rapuh di depanku." Dan untuk pertama kalinya, Otto tidak harus memilih. la bisa jadi dirinya yang siang, dirinya yang malam, dan tetap digenggam sama eratnya. -NorthOtto-