imyourconcubine
- Reads 5,541
- Votes 448
- Parts 16
Dr. Alana Prasetia punya dua prinsip hidup: pasien harus nurut, dan jatuh cinta itu merepotkan. Prinsip pertama selalu gagal kalau yang masuk UGD adalah Laras Anindya. Laras itu arsitek. Kerjanya ngopi enam gelas sehari, tidurnya kalau kliennya udah tidur, makannya kalau ingat. Hasilnya? Langganan IGD jam 2 pagi karena maag, migrain, sampai tipes. Setiap ketemu, Alana nyeramahin: "Badan bukan beton cor, Mbak." Laras ngeyel: "Dok, kalau saya sehat terus, Anda nggak ada kerjaan." Musuhan mereka standar. Sampai Alana dipaksa jadi dokter penanggung jawab pas Laras tumbang seminggu. Di ranjang No. 7, Laras yang biasanya slengean dengan wolfcut berantakannya mendadak diem dan rapuh. Alana yang judes dan feminin di balik snelli mendadak nggak tega. Diam-diam dia ganti kopi Laras dengan teh jahe. Diam-diam Laras nyelipin sketsa renovasi ruang istirahat UGD di meja nurse. Masalahnya, Alana sudah punya "tipe" di kepalanya: Dr. Oktario. Teman koas dulu, cermin hidupnya yang sama-sama perfeksionis. Alana pernah suka, pernah dipendam, dan pas Oktario balik lalu nembak, Alana baru sadar. Dia nggak kangen Oktario. Dia kangen versi dirinya yang lurus dan rapi. Oktario itu cermin. Dan Alana capek ngaca terus. Yang dia butuhkan ternyata bukan cermin, tapi warna yang beda. Warna yang berantakan, yang bikin dia ketawa jam 3 pagi di pantry, yang bikin dia milih cabut dari dinner demi jenguk pasien bandel. Warna itu namanya Laras.